Minggu, 08 Juni 2014
kesehatan pada gigi
A. Latar Belakang
Rongga mulut merupakan pintu gerbang tubuh. Setiap waktu tak terhitung mikroorganisme yang melewati rongga mulut. Hal ini terjadi terus menerus tanpa mengalami banyak gangguan karena adanya pengaruh saliva. Rongga mulut juga merupakan bagian saluran cerna dengan biologi yang unik, terdiri atas jaringan lunak dan keras seperti tubuh lainnya. Dalam rongga mulut ini juga terdapat kelainan-kelainan, salah satunya yaitu bau mulut atau halitosis (Roeslan, 1999).
Bau mulut yang bersumber dari mulut merupakan faktor yang disebabkan oleh bakteri dan protein yang ada pada semua orang, oleh karena itu pada dasarnya bau mulut adalah masalah semua orang, hanya tingkat keparahan yang berbeda-beda, ada yang mempunyai bau mulut ringan sehingga sama sekali tidak mengganggu orang-orang di sekitarnya, sementara yang mempunyai kondisi halitosis berat sangat mengganggu orang lain sehingga dapat mempengaruhi rasa percaya diri (Widiati, 2003).
Kondisi gigi yang tidak bersih maupun gigi yang berlubang merupakan tempat yang dapat menjadi media pertumbuhan bakteri anaerob gram negatif, di samping sisa makanan itu juga mengalami pembusukan ( Wibosono, 2002). Hasil Penelitian menunjukan, hampir 85-95 % bau mulut bersumber adanya kelainan di rongga mulut, baik gigi yang berlubang maupun infeksi jaringan penyangga (Fahrudin, 2002).
Jurnal healt to day mengatakan, plak merupakan penyebab kerusakan gigi. Plak dan sisa makanan yang melekat di gigi secara bertahap akan diubah menjadi asam oleh bakteri. Jika plak dan sisa makanan tersebut dibiarkan terlalu lama dipermukaan gigi atau tidak segera dibersihkan dan ditambah lagi dengan adanya air liur, plak beserta sisa-sisa makanan menumpuk yang lama kelamaan akan mengeras sehingga berubah menjadi karang gigi yang mempunyai permukaan kasar sehingga memudahkan kotoran-kotoran menempel (Ita, 2002).
Obat tradisional adalah obat jadi atau ramuan bahan alam yang berasal dari tumbuhan, hewan, dan mineral. Bahan-bahan tersebut yang secara tradisional telah digunakan untuk mengobatan berdasarkan pengalaman. Bahan obat alam yang berasal dari tumbuhan porsinya lebih besar dibanding dari bahan yang dari hewan atau mineral, sehingga sebutan obat tradisional hampir selalu identik dengan tanaman obat. Dari masa ke masa obat tradisional mengalami perkembangan yang semakin meningkat karena mudah ditemui dan harganya dapat dijangkau oleh semua lapisan masarakat.
Tanaman teh juga salah satu tanaman yang dijadikan obat tradisional. Di seluruh pelosok Indonesia aneka produk bisa dijumpai sehari-hari. Teh bisa diminum panas atau dingin sebagai minuman penyegar atau obat. Banyak pula yang mencampurkan dengan bahan-bahan tertentu untuk mengobati berbagai penyakit (Nazarudin, 1996).
Salah satu gangguan pada mulut adalah bau mulut. Biasanya berbagai cara dilakukan untuk menghilangkannya. Mulai pengobatan tradisional yang menggunakan berbagai ramuan. Para peneliti dari Lembaga Perlindungan Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan di Belanda menemukan bahwa di dalam teh, terdapat zat yang bernama katekin yang dapat menghambat perkembangan bakteri penyebab napas berbau tidak sedap. Minuman teh dengan kekentalan normal, cukup untuk membunuh bakteri pada lidah (Okie, 2008).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk mengetahui lebih dalam mengenai mekanisme teh hijau untuk menghilangkan halitosis yang disebabkan oleh kalkulus.
B. Perumusan Masalah
Dari uraian diatas, maka perumusan masalah ini adalah bagaimanakah mekanisme teh hijau (ryokucha) untuk menghilangkan halitosis yang disebabkan oleh kalkulus?
C. Tujuan
1. Umum : Untuk mengetahui mekanisme teh hijau dalam menghilangkan halitosis yang disebabkan oleh kalkulus.
2. Khusus : Untuk mengetahui perbandingan antara teh apa yang paling banyak kandungan zat yang berkhasiat untuk menghilangkan halitosis.
D. Manfaat
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat antara lain:
1. Bagi Penulis
Agar dapat menambah pengetahuan tentang mekanisme teh hijau untuk menghilangkan halitosis yang disebabkan oleh kalkulus.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Bahan masukan bagi institusi pendidikan dalam kontribusi teh sebagai salah satu obat tradisional bau mulut ke dalam kurikulum mata kuliah bagi mahasiswa Politeknik Kesehatan Pontianak Jurusan Kesehatan Gigi.
3. Bagi Ilmu Pengetahuan
Segala masukan serta referensi bagi penelti lebih lanjut yang berkaitan dengan mekanisme teh untuk menghilangkan halitosis.
E. Ruang Lingkup
1. Lingkup Keilmuan
Studi pustaka ini merupakan bidang ilmu obat kedokteran gigi.
2. Lingkup Masalah
Lingkup masalah ini ditekan pada mekanisme teh hijau untuk menghilangkan halitosis yang disebabkan oleh kalkulus.
3. Lingkup Metode
Jenis studi pustaka ini adalah bersifat membaca dan mengumpulkan referensi dari buku, majalah, tabloid, dan internet.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teh
Kata teh berasal dari Cina yaitu teh dengan istilah tay. Bahasa latinnya Camelia sinensis. Hingga sekarang teh sudah banyak dikenal sampai ke seluruh negara. Ada beberapa klasifikasi tanaman teh menurut Nazarudin (1996) yaitu :
> Divisi : Spermatophyta
> Sub divisi : Angiospermae
> Kelas : Dicotyledon
> Famili : Theaceae
> Genus : Camellia
> Species : Camellia sinensis
1. Ciri-Ciri Teh
Menurut Nazarudin (1996) ada beberapa ciri-ciri teh yaitu tanaman teh berbentuk pohon. Tingginya bisa mencapai belasan meter. Namun tanaman teh di perkebunan selalu dipangkas untuk memudahkan memetiknya, sehingga tingginya 90- 120 cm.
Mahkota teh berbentuk kerucut. Daunnya berbentuk jorong atau agak bulat telur terbalik. Tepi daun bergerigi. Daun tunggal dan letaknya hampir berseling. Tulang daun menyisip. Permukaan daun atas muda berbulu halus, sedangkan permukaan bawahnya hanya sedikit, dan permukaan daun halus tidak berbulu lagi.
Bunga tunggal dan ada yang tersusun dalam rangkaian kecil. Bunga muncul dari ketiak daun. Warnanya putih bersih berbau wangi lembut. Namun ada bunga yang berwarna semu merah jambu. Mahkota bunga berjumlah 5- 6 helai. Putik dengan tangkai yang panjang atau pendek dan pada kepalanya terdapat tiga buah sirip. Jumlah benang sari 100- 200 helai.
Buah teh berupa buah berupa kotak berwarna kecoklatan. Dalam satu buah berisi satu sampai enam biji, rata-rata tiga biji. Buah yang masak dan kering akan akan pecah dengan sendirinya serta bijinya ikut keluar. Bijinya berbentuk bulat atau gepeng pasa satu sisinya. Berwarna putih sewaktu masih muda dan berubah menjadi kecoklatan setelah tua.
Akar teh berupa akar tunggal dan mempunyai banyak akar cabang. Apabila akar tunggalnya putus, akar-akar cabang akan menggantikan fungsinya dengan arah tumbuh yang semula melintang menjadi ke bawah, dan juga akar bisa tumbuh besar dan cukup dalam.
2. Jenis-Jenis Teh
Ada beberapa jenis teh menurut Hollenberg (2008) yaitu sebagai berikut
a Teh hijau : Bahannya berasal dari pucuk daun teh yang sebelumnya mengalami pemanasan dengan uap air untuk menoaktifkan enzim yang terdapat dalam daun teh. Selanjutnya digulung dan dikeringkan. Teh hijau diproduksi dengan cara penguapan (steaming) daun teh pada suhu tinggi sehingga kandungan katekin dapat dipertahankan. Kandungan katekin pada teh hijau mencapai 30-42%.
b Teh putih : Untuk membuat teh putih diperlukan daun teh yang paling muda, yang masih dipenuhi bulu putih pedek atau bulu halus. Proses pemasakannya mengalami 2 tahap, yaitu penguapan dan pengeringan. Tidak ada proses pelayuan, penggilingan, atau fermentasi (kadang kala difermentasi juga dengan kadar ringan). Tampilan teh putih nyaris tak berubah, yaitu berwarna putih keperakan. Ketika diseduh akan berwarna kuning pucat dengan aroma lembut dan segar. Kandungan katekin pada teh putih sekitar 22-25%.
c Teh oolong : terbuat dari daun teh yang lebih besar dan lebih tua. Setelah dipetik langsug dijemur untuk pelayuan. Tujuan pelayuan untuk menurunkan kadar air dan membuat lebih lembut. Kemudian daun diaduk-aduk atau dikocok untuk menghilangkan pinggiran daun. Tahap berikutnya ditebar dan dikeringkan, dilakukan beulang kali. Tampilan teh oolong, bagian tepi daun teh akan berwarna merah karena fermentasi dan bagian tengah tetap berwarna hijau. Kandungan katekin pada teh oolong sekitar 15-19% (Gede, 2006).
d Teh hitam : Daun yang sudah dipetik, kemudian dijemur 12-18 jam. Dilanjutkan dengan proses fermentasi secara penuh. Warna daun teh menjadi hitam dan beraroma khas. Daun teh yang mengitam ini kemudian digiling dan selanjutnya masih difermentasi di dalam ruangan dingin dan lembab. Melalui proses ini, teh yang dihasilkan dapat lebih banyak. Sebagian besar teh yang beredar di pasaran adalah teh hitam. Teh hitam sebenarnya mengandung katekin, namun tidak banyak. Hal ini karena adanya proses fermentasi pada pembuatan teh hitam yang dapat merusak kandungan katekin. Kandungan katekin pada teh hitam hanya sekitar 7-10% (Hollenberg, 2008).
3. Teh Hijau (Ryokucha)
Teh hijau (ryokucha) adalah teh yang sangat umum di China. Teh hijau adalah terpilih dari daun teh kelas atas yang disebut tencha. Teh dinamakan gyokuro karena warna hijau pucat yang keluar dari daun teh. Daun dilindungi dari terpaan sinar matahari sehingga mempunyai aroma yang sangat harum. Teh hijau berkualitas tinggi yang digiling menjadi bubuk teh (Hanzi, 2009).
4. Kandungan dan Kegunaan Teh Hijau
Menurut Khomsan (2008) teh hijau mempunyai kandungan dan kegunaan sebagai berikut :
- Polipenol (katekin) yang terdapat dalam teh hijau adalah bahan sangat bermanfaat bagi kesehatan, yaitu mampu mengurangi risiko penyakit jantung, membunuh sel tumor, dan menghambat pertumbuhan sel kanker paru-paru, kanker usus terutama sel kanker kulit. Zat ini dapat membantu kelancaran proses pencernaan makanan melalui stimulasi peristalsis, produksi cairan pencernaan, menghambat pertumbuhan plak, dan menghilangkan bau mulut.
- Fluor adalah tergolong sebagai mineral yang dapat mencegah radang gusi, dan gigi berlubang.
- Mangan yang terdapat pada teh hijau dapat membantu penguraian gula menjadi energi sehingga membantu menjaga kestabilan kadar gula dalam darah.
- Kafein yang terkandung dalam teh hijau berbeda dengan kafein yang terkandung dalam kopi. Pada teh hanya terkandung kafein sebanyak 3 - 5%. Jadi jika kita rajin minum teh, maka tubuh dan pikiran akan terasa lebih segar. Kafein berpengaruh positif pada aktivitas mental, dan dapat memperbaiki proses pencernaan makanan dalam lambung.
B. Halitosis
Pengertian Halitosis
Halitosis berasal dari kata “halitos” yang berarti nafas dan “osis” yang berati kondisi tidak normal, berarti halitosis adalah bau nafas yang tidak sedap. Sekarang ini istilah halitosis telah digunakan secara bersama untuk menyatakan bau nafas yang tidak sedap, bahkan halitosis banyak dikenal dan dipergunakan (Haskell & Gayford, 1979).
Pada tahun 70-an dengan dipelopori oleh Dr Joseph Tonzetich dari Departement of Oral Biology, Fatulty of Dentistry, University of British Columbia Vancouver Canada, dilakukan penelitian yang mendalam untuk mengetahui sebenarnya penyebab nafas yang tak sedap pada seseorang. Dr Tonzetich dan kawan-kawan berhasil mendeteksi bahwa adanya sesuatu senyawa yang berbau yang keluar dari mulut seorang mengidap bau mulut (Djaya, 2001).
Halitosis telah menjadi masalah yang mengkhawatirkan selama berabad-abad, hal ini dapat diketaui dari tulisan-tulisan Romawi kuno. Sejak tahun 1550 BC orang Mesir telah menganjurkan untuk mengatasi nafas tak sedap dengan cara mengunyah bahan yang baunya wangi seperti mellburry, myrrh (sejenis rempah-rempah), atau karet dari pohon mastik.
Jaman dahulu seorang pejabat romawi telah memberikan pernyataan bahwa nafas seseorang akan menjadi bau karena makanan yang tidak baik, karena gigi yang jelek, atau bahkan meningkatnya usia seseorang. Demikian pula Hipokrates yang lebih dikenal sebagai bapak ilmu kedokteran, 460-337 BC, telah membahas tentang diagnosa dan perawatan bau mulut. Hipokrates menjelaskan adanya hubungan antara penyakit gusi dan bau mulut. Jika gusi menjadi sehat kembali bau mulut akan hilang. Sir William Osler 90 tahun yang lalu, dokter Kanada yang terkenal juga menyatakan bahwa deteksi mau mulut dapat merupakan indikator yang baik dari penyakit-penyakit mulut dan penyakit-penyakit sistemik tertentu (Djaya, 2001).
Pengertian tentang suatu bau yang tercium adalah sangat berbeda antara individu yang satu dengan yang lainnya. Seseorang tidak keberatan bau dari anggota keluarganya seperti istri dan anak karena hal itu dapat memberikan ciri khas tersendiri. Seseorang sering pula tidak dapat merasakan baunya sediri karena telah terbiasa, seperti halitosis, ini terjadi karena adanya efek ”adaptasi” dimana karena bau tersebut menjadi ada dan terpapar terus-menerus, menyebabkan syaraf olfactorius menjadi teradaptasi sehingga tidak disadari lagi adanya bau.
Menurut Fahrudin (2002) pada umumnya halitosis bisa dialami oleh semua orang, pria-wanita, besar-kecil, tua-muda, bayi ataupun lanjut usia walaupun hanya sehari. Bau tersebut bisa bersifat sementara bisa berbulan-bulan, atau bertahun-tahun. Tingkat baunya bermacam-macam, mulai dari yang ringan sampai yang berat.
Meskipun biasanya orang menyebut bau mulut tak sedap, namun sebenarnya sumber bau mulut itu tidak hanya dari rongga mulut saja, tetapi juga bisa dari rongga hidung, paru-paru dan lain-lain.
Tetapi bila orang yang bersangkutan itu sediri mempunyai syaraf-syaraf pembauannya rusak, maka ia tidak mengetahui kalau bau mulutnya berbau. Jadi hanya orang lain yang berada di depannya saja yang bisa tau. Tidak ada penyakitpun hanya dari mulut bisa berbau, karena makan-makanan yang berbau merangsang atau karena obat-obatan yang diminum, bahkan mulut kering karena pernapasan melalui mulut yang terus-menerus juga menimbulkan halitosis. Halitosis disebabkan oleh faktor-faktor yang berasal dari mulut,sebab-sebab sistemik atau kelainan pada daerah nasofaringeal (Djaya, 2001).
2. Faktor-Faktor Penyebab Halitosis
a. Faktor lokal
Menurut Djaya (2002) di dalam rongga mulut mempunyai peranan besar terhadap terjadinya halitosis, dan banyak sekali berpendapat bahwa di dalam mulut mikroorganisme yang membentuk flora normal mulut. Jutaan koloni berbagai jenis bakteri di dalam rongga mulut yang berguna untuk membantu pencernaan makanan.
Di dalam rongga mulut juga terdapat gigi yang mempunyai pengaruh terhadap halitosis seperti kebersihannya dan kesehatannya, jaringan penyangganya (periodontium). Terdapat juga jaringan lunak mulut seperti gingiva, mukosa serta lidah.beberapa faktor penyebab halitosis dari halitosis dari rongga mulut :
- Lidah
Berdasarkan studi yang dilakukan menyatakan bahwa permukaan lidah bagian paling belakang lidah merupakan sumber utamanya terjadinya halitosis. Lidah mempunyai tonjolan-tonjolan halus pada papilla-papila pada seluruh permukaannya, terdapat tiga jenis papila yang terbesar pada tempat-tempat tertentu dimana panjang-pendeknya papilla ini bervariasi pada setiap individu. Permukaan lidah merupakan tempat utama aktivitas serta berkembang biaknya bakteri. Daerah-daerah di antara papila-papila serta dasar lidah tersebut merupakan tempat paling disukai oleh bakteri khusus bakteri-bakteri anaerob. Disamping itu permukaan lidah seperti halnya permukaan gigi juga dapat tertutup oleh plak yang merupakan lapisan tipis seperti film berasal dari sisa-sisa makanan terutama bagian posterior. Oleh karena itu membersihkan lidah sangatlah penting khususnya dalam mencegah halitosis (Dyaja,2001).
- Ludah
Ludah atau saliva mempunyai peranan penting terhadap terjadinya halitosis yaitu adanya suatu aktivitas pembusukan oleh bakteri yaitu adanya degradasi protein menjadi asam amino oleh mikroorganisme (Djaya, 2001).
- Stomatitis
Stomatitis yaitu radang pada selaput lendir mulut. Salah satu jenis stomatitis yang amat jahat yaitu adalah jenis noma, stomatitis yang berbau busuk (Djaya, 2001).
- Karies gigi
Karies gigi adalah suatu penyakit jaringan keras gigi, yaitu email, dentin dan sementum yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik dalam suatu karbohidrat yang dapat diragikan. Jika dibiarkan lama kelamaan gigi akan membusuk dan menimbulkan bau mulut (Ginting, 1985).
- Karang gigi / kalkulus
Karang gigi atau kalkulus adalah suatu endapan keras yang melekat pada permukaan gigi. Karena gigi mempunyai permukaan yang kasar sehingga sisa-sisa makanan dan air ludah melekat pada permukaan gigi dan menimbulkan bau mulut. Penyebab timbulnya karang gigi adalah karena penimbunan lapisan mineral pada gigi yang berbatasan dengan gusi, dan dapat menimbulkan gangguan gigi serta gusi (Ginting,1985).
- Periodontitis
Radang sekitar gigi ini dapat timbul karena adanya ransangan plak dan kalkulus yang menyebabkan pembengkakan jaringan gusi dan terjadi poket atau yang lebih dalam dari normal yang selanjutnya menjadi bertambah dalam diakibatkan adanya kerusakan serat-serat periodontal dan tulang-tulang alveolar (Ginting, 1985).
- Sisa akar gigi
Seandainya kalau karies gigi dibiarkan semakin lama semakin besar dan akhirnya gigi hancur semua, akhirnya di dalam tulang hanya tertinggal sisa akar membusuk (Ginting, 1985).
- Pemakaian protesa atau gigi palsu
Pemakaian gigi palsu yang tak terawat menimbulkan bau mulut yang tidak sedap karena tidak dijaga kebersihannya, terutama gigi tiruan, sekarang ini telah jarang dibuat dan hampir selalu berbau tidak sedap (Yuwono, 1989).
b. Faktor umum
Yaitu penyebab halitosis yang berasal dari selain dalam rongga mulut :
- Rokok/Perokok
Yaitu bau dan rasa dari mulut seorang perokok cukup khas yang biasanya dapat ditentukan apakah pasien merokok sigaret, cerutu atau dengan pipa. Pasien yang menghembuskan nafas berarti mengeluarkan bau dari paru-paru. Bronkus, mulut, hidung dan sinus paranasal, meningkatkan sekresi mukosa dapat memperburuk bau tersebut (Irawati, 2005).
- Diet
Salah satunya diet juga dapat menimbulkan halitosis, makanan yang digoreng juga dapat melimbulkan bau mulut bahkan setelah gigi di bersihkan. Kopi juga dapat mempunyai yang khas, tetapi bau hilang setelah dilakukan penyikatan gigi (Temmy, 2002)
- Kelainan rongga tenggorokan atau nasoparing
>Pharingitis yaitu radang selaput lender tenggorokan (Irawati, 2005).
>Sinus paranasal, yaitu sinus yang mengalami radang dan menguarkan nanah sehingga menimbulkan bau (Djaya, 2001).
>Tonsilitis akut, dimana tonsil membengkak, dan mengandung nanah sehingga menimbulkan bau (Djaya, 2001).
>Rinitis yaitu peradangan mukosa fosa nasali terutama rhinitis atrofi (ozaena) yaitu mukosa hidung menjadi sklerotik, fosa nasal tersumbat oleh krusta yang menghasilkan bau mulut yang busuk (Irawati, 2005).
- Penyakit ginjal kronis
Dalam rongga mulut biasanya berbau kurang sedap pada penyakit penyakit ginjal kronis dengan lidah yang kering dan berubah warna. Urea dikeluarkan melalui kelenjar ludah bila pasien mengalami uremia yang parah dan bau mulut berbau urine (Irawati, 2005).
- Keadaan hepatikum
Keadaan hepatikum ini terdapat pada fungsi hati yang sangat akut dan dapat dianggap sebagai tanda kemungkinan terjadinya koma. Bila pasien belum berada pada keadaan yang sangat akut, bau mulut pasien yang hepatikum yang sering disebut dalam sejumlah istilah, seperti bau kayu lapuk, tikus, dan bahkan bau bangkai segar (Yuwono, 1989).
- Paru-paru dan bronkus
Penyakit paru-paru dan bronkus dapat berupa abses, kavitas dan daerah-daeah strategi dapat memperburuk bau mulut. Keadaan seperti bronkiektasis, abses paru-paru, enpyema, dan keadaan lain yang dapat menimbulkan pembusukan kavita paru-paru dapat menimbulkan halitosis (Yuwono, 1989).
C. Karang Gigi
Karang gigi adalah bakterial plak yang mengalami endapan keras/mineralisasi, dapat terbentuk pada semua permukaan gigi dan celah gigi yang berwarna mulai kekuning-kuningan, kecoklat-loklatan, kehijau-hijauan sampai kehitam-hitaman dan mempunyai permukaan yang kasar. Oleh karena karang gigi yaitu endapan keras dari plak, maka terbentuknya adalah berdasarkan perkembangan dari plak oleh karena itu plak harus ada untuk terbentuknya karang gigi. Untuk mengontrol karang gigi harus dimulai dengan plak kontrol (Sunaryo, 1984).
Teori pembentukan karang gigi sangat bervariasi, tetapi pada umumnya para ahli berpendapat bahwa antara plak dan karang gigi terdapat hubungan yang erat sekali, sehingga tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, tinggal terlalu lama pada permukaan gigi yang akan mengeras menjadi karang gigi. Penyebab ini berasal dari pengendapan bahan-bahan kasar, air ludah dan serum darah, akibat adanya suatu peradangan. Karang gigi mempunyai permukaan kasar sehingga sisa-sisa makanan dan air ludah melekat pada permukaan gigi tersebut. Selanjutnya karang gigi akan terus terbentuk dan bertambah banyak sehingga dapat menutupi sebagian permukaan gigi dan dapat juga dipermukaan akar gigi dibawah tepi gusi (Djuita, 1995).
Klasifikasi Karang Gigi / Kalkulus
Berdasarkan hubungan terhadap gingiva margin, karang gigi dibagi dalam
a) Supra gingival kalkulus
Melekat disebelah korona dari crest gingiva margin dan dapat dilihat. Warnanya putih kekuningan atau putih keabuan, klasifikasinya terganyung pada mineral-mineral yang terdapat didalam saliva dan lebih banyak terdapat di daerah tempat berkumpulnya saliva; misalnya pada daerah lingual gigi daerah anterior bawah, dan permukaan bukal gigi-gigi molar rahang atas. Supragingival kalkulus mempunyai konsentrasi seperti tanah liat, warnanya dapat dipengaruhi oleh pigmentasi yang berasal dari tembakau, makanan atau metabolisme bakteri. Pada kasus-kasus yang eksterim kalkulus dapat membentuk menutupi permukaan oklusi gigi yang tidak berfungsi (Sunaryo, 1984).
b) Subgingival kalkulus
Melekat disebelah apikal dari crest gingiva margin di dalam sulkus gingiva dan poket, tidak terlihat pada pemeriksaan. Untuk menentukan adanya subgingiva kalkulus digunakan sonde. Konsentrasinya padat dan keras, warnanya coklat tua atau hijau kehitam-hitaman. Bayangan warna ini dapat terlihat berupa warna gelap membayang disekitar gingival margin. Klasifikasinya sebagian besar berasal dari mineral-mineral yang terdapat didalam gingival (Sunaryo, 1984).
2. Komposisi Karang Gigi
Komposisi karang gigi bervariasi sesuai dengan lamanya pembentukan. Terdiri dari 80% masa anorganik, air dan matrik organik dari protein dan karbohidrat. Fraksi anorganik terutama dari fosfat kalsium, dalam bentuk hidroksid apatid, brushide, whitlockite, dan fosfat oktakalsium. Selain itu juga terdapat sejumlah kecil kalsium karbonat, magnesium fosfat, dan fluor. Kandungan fluor dari karang gigi adalah beberapa kali lebih besar dari pada di dalam plak (Manson, 1993).
BAB III
KERANGKA TEORI
A. Landasan Teori
Teh hijau mengandung zat aktif bernama katekin yang dapat membunuh bakteri di mulut, dapat menahan proses pembentukan plak gigi. Tidak hanya menghalangi tapi justru membunuh bateri pembentuk plak dan karang gigi sehingga tidak terjadinya bau mulut dengan mekanisme menghambat radikal bebas.
B. Kerangka Konsep
C. Definisi Operasional
Mekanisme atau cara kerja zat aktif (katekin) yang terkandung di dalam teh hijau yang dapat membunuh bakteri dalam mulut dan menghambat pertumbuhan plak sehingga tidak terjadinya suatu endapan keras yang melekat pada permukaan gigi (karang gigi) yang menyebabkan bau mulut.
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini mendeskripsikan atau menggambarkan suatu keadaan yang dibahas berdasarkan metode studi kepustakaan dengan cara membaca dan mempelajari buku-buku, makalah ilmiah, serta hasil-hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan mekanisme teh hijau untuk menghilangkan halitosis yang disebabkan oleh kalkulus.
B. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan melakukan penelaahan kepustakaan (library research) yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, membaca dan mempelajari buku-buku literatur, laporan-laporan, serta makalah ilmiah lainnya yang kemudian dibahas berdasarkan teori-teori yang ditemukan, sehingga dapat menciptakan pemahaman serta diperoleh arah dan hasil penelitian yang tepat dan relevan.
BAB V
PEMBAHASAN
Sekresi saliva berkaitan erat dengan kesehatan rongga mulut, terutama berhubungan dengan pembentukan pada plak, plak adalah Plak gigi adalah lapisan lembut yang terbentuk dari campuran antara makrofag, leukosit, enzim, komponen anorganik, matriks ekstraseluler, epitel rongga mulut yang mengalami deskuamasi, sisa-sisa makanan serta bakteri yang melekat di permukaan gigi. Bakteri yang berperan penting dalam pembentukan plak gigi adalah bakteri dari genus Streptococcus, yaitu bakteri Streptococcus mutans (Maulani, 2006).
Jika plak tidak segera dibersihkan maka dapat menimbulkan karang gigi. Pembentukan karang gigi dimulai dengan pengendapan garam kalsium fosfat yang dapat terjadi apabila lingkungannya mempuyai ph tinggi yang basa, sehingga plak dan sisa-sisa makanan menempel pada permukaannya. Akibat adanya pengendapan kalsium fosfat dalam lingkungan basa dapat memudahkan bakteri dalam menghasilkan amoniak yang mengandung uriase. Hasil dari metabolisme bakteri ini berupa gas atau senyawa sulful yang mudah menguap sehingga dapat menyebabkan bau mulut (Wibisono, 2002).
Adanya senyawa sulfur yang mudah menguap atau Volatile sulful Compounds (VSC), merupakan unsur utama penyebab halitosis. VSC adalah hasil aktifitas bakteri-bakteri anaerob di dalam mulut berupa senyawa yang berbau tidak sedap dan mudah menguap hingga menimbulkan bau yang tercium oleh orang lain disekitarnya. Aktifitasnya di dalam mulut bakteri anaerob bereaksi dengan protein-protein yang ada, protein di dalam mulut dapat diperoleh dari sisa-sisa makanan yang mengandung protein, sel-sel darah yang telah mati, bakteri-bakteri yang telah mati ataupun sel-sel epitel yang terkelupas dari mukosa mulut. (Djaya, 2002).
Di dalam mulut normal diperkirakan rata-rata terdapat sekitar 400 macam bakteri dengan berbagai tipe. Meskipun penyebab bau mulut belum diketahui dengan jelas, kebanyakan dari bau tersebut berasal dari sisa makanan di dalam mulut. Masalah akan muncul bila sebagian bakteri berkembang biak. Kebanyakan dari bakteri ini bermukim di leher gigi bersatu dengan plak dan karang gigi, selain itu di balik lidah juga ada karena daerah tersebut merupakan daerah yang aman dari kegiatan mulut sehari-hari. Bakteri tersebut memproduksi toksin atau racun, dengan cara menguraikan sisa makanan dan sel-sel mati yang terdapat di dalam mulut. Racun inilah yang menyebabkan bau mulut pada saat bernafas karena hasil metabolisme proses anaerob pada saat penguraian sisa makanan tersebut menghasilkan senyawa sulfide dan ammonia (Vyati, 2009).
Upaya pencegahan lebih banyak ditujukan untuk mengurangi terjadinya penumpukan plak yang berlebihan di dalam rongga mulut. Salah satu caranya yaitu dengan menggunakan teh hijau (ryokucha) (Hattori & Sakanaka, 1998). Teh hijau mengandung zat aktif bernama katekin yang dapat membunuh bakteri di mulut, sekaligus menghilangkan gula dari plak dan menghilangkan bakteri penyebab napas berbau. Minumlah 2 sampai 5 cangkir teh hijau sehari (Johnson, 2009).
Teh hijau memiliki kandungan katekin yang tinggi karena pada pembuatan teh hijau tidak melibatkan proses fermentasi yang merupakan oksidasi polifenol (katekin). Oleh karena itu teh hijau yang kaya akan kandungan katekin yang mampu mencegah pertumbuhan bakteri pembentuk plak. Sedangkan pada teh hitam, kandungan katekin sangat rendah karena pada proses pembuatannya melibatkan proses fermentasi yang merupakan proses oksidasi polifenol (katekin) (Khamson, 2008).
Para ahli yang meneliti daun teh hijau sepakat, bahwa teh hijau mengandung senyawa-senyawa bermanfaat. Salah satu kandungan teh hijau yaitu senyawa substansi fenol yaitu katekin. Kandungan katekin dalam teh hijau adalah 30-42% berat kering daun teh hijau, meski total kandungannya bervariasi tergantung lokasi tumbuh, musim, intensitas cahaya dan ketinggian tempat (Hollenberg, 2008).
Teh hijau mengandung 30-42% polifenol yang sebagian besar dikenal sebagai katekin. Katekin adalah antioksidan yang sangat kuat, lebih kuat dari vitamin E, C dan 0-karoten. Senyawa katekin yang terkandung didalam teh hijau yaitu :
- epitekin (EC)
- epikatekin galat (ECG)
- epigallokatekin (EGC)
- epigallokatekin galat (EGCG)
.Dari keempat komponen katekin teh tersebut, EGCG merupakan komponen utama yang paling potensial. Salah satu fungsi utama dari EGCG adalah sebagai antioksidan, dengan mekanisme menghambat radikal bebas yang terjadi di dalam lingkungan sehingga menghambat reaksi berantai yang dapat menyebabkan kerusakan oksidatif bagi struktur mikroorganisme salah satunya bakteri dari genus Streptococcus, yaitu bakteri Streptococcus mutans. Selain sebagai antioksidan, EGCG juga berfungsi sebagai antimikroba, antimutagenik dan antikarsinogenik (Wulandari, 2008).
Katekin yang terkandung di dalam teh hijau dengan konsentrasi tinggi, memiliki kemampuan untuk mengurangi pembentukan plak gigi dengan membunuh bakteri penyebab (Streptococcus mutans) dan menghambat aktivitas enzim glikosiltransferase (GTF) dari bakteri tersebut. Enzim GFT ini mengubah sukrosa menjadi glukan yang merupakan penyebab pembentukan plak gigi. Berdasarkan pengaruh katekin terhadap plak gigi, hasilnya menunjukan bahwa jumlah bakteri (Streptococcus mutans) berkurang sehingga pembentukan plak gigi pun berkurang (Hattori & Sakanaka, 1998).
Selain itu hasil juga menunjukan bahwa antioksidan, dengan mekanisme dari katekin bisa menghambat reaksi berantai sehingga tidak terjadi senyawa belerang yang terbentuk dalam mulut seperti metil mercaptan dan beberapa sulfid (VSC) sebagai hasil penguraian protein oleh enzim dan bakteri (Wulandari, 2008).
Karya Ilmiah Remaja
Di masa lalu Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan hutan alam tropis terluas di dunia, memiliki keanekaragaman hayati tertinggi, sehingga dijuluki “Zamrud Khatulistiwa” dan diharapkan mampu menjadi “penjaga” keseimbangan keberlangsungan dan kelestarian ekosistem bumi, posisi Indonesia kini justru sangat mengenaskan.
Secara tragis, Indonesia kini justru dikenal sebagai salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar di dunia yang salah satu dampaknya menimbulkan perubahan iklim yang bisa mengancam kelangsungan hidup manusia di planet Bumi ini. Ini bisa terjadi karena, jujur saja, akibat perilaku buruk kita dalam mengelola alam Indonesia.
Laporan ilmiah Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang dikeluarkan di Paris, 2 Februari 2007, secara tegas menyebutkan besarnya polah manusia sebagai penyebab perubahan iklim. Menurut laporan ini, sebagaimana disiarkan organisasi lingkungan hidup Indonesia, Pelangi, memberikan kemungkinan sampai 90 persen bahwa aktivitas manusia merupakan penyebab perubahan iklim itu. Ini lebih tinggi daripada laporan terakhir pada 2001 yang menyebutkan bahwa kemungkinannya hanya 66 persen.
Menurut IPCC, konsentrasi gas-gas karbondioksida (CO2), metana, dan dinitrogen oksida (N20), meningkat pesat sejak 1750 sehingga konsentrasi saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum era industri. Peningkatan konsentrasi CO2 terutama disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil serta alih fungsi hutan menjadi lahan ekonomis, sementara aktivitas pertanian menyebabkan peningkatan konsentrasi gas metana dan dinitrogen oksida.
Perubahan Iklim
Perubahan iklim atau cuaca di Indonesia khususnya di Sumatera Utara belakangan ini makin meningkat. Namun sejauh pengamatan lebih banyak musim panas dibandingkan musim hujan. Hal ini terlihat dari beberapa bulan terakhir selalu terjadi musim panas. Bila terjadi hujan tidak berlangsung lama dan kemudian kembali panas.
Ironisnya pada musim panas ini suhu udara bisa mencapai 35 oC. Akibatnya banyak
warga yang merasa kegerahan bahkan bisa menyebabkan suatu penyakit karena kondisi tubuh yang tidak stabil. Menurut BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika)
Wilayah Medan salah satu pengaruh perubahan iklim di Medan bisa jadi karena makin meningkatnya suhu udara dari 30 tahun terakhir ini sekitar 0.3 (nol poin tiga) – 0.85 oC. Jadi sejak 30 tahun ini ada peningkatan rata-rata dari suhu udara.
Selain itu, ada juga peningkatan jumlah curah hujan yang naik. Karena itu kalau suhu udara semakin meningkat maka dari pertumbuhan awan juga makin tinggi sehingga jumlah curah hujan bila kita lihat lima tahun terakhir ini dibanding rata-rata juga cukup meningkat dari curah hujan yang turun untuk di wilayah Sumatera Utara.
“Contohnya saja di stasiun Sampali, Polonia dan Sibolga. Kecendrungan curah hujannya menjadi naik,” katanya.
Namun secara global, kalau kita lihat dari data IPCC (Inter Governmental Thanel on Climat Change) yang memantau dari peningkatan suhu global dunia, juga mengalami peningkatan suhu udara. Hal itu disebabkan karena pengaruh banyaknya CO2 yang ada ada di angkasa sehingga menyebabkan gas rumah kaca (GRK) sehingga ada perubahan iklim yang tidak menentu.
Perubahan iklim seperti itu kadang di suatu daerah bisa menyebabkan banjir yang besar karena curah hujannya tinggi, tapi daerah lain menjadi kondisinya sangat kering. Hal itu mungkin dari salah satu efek pemanasan global dalam skala dunia. Sedangkan kalau yang di wilayah Sumatera Utara sebenarnya dalam posisi musim kemarau. Mungkin karena kondisi efek global iklim yang sudah tidak berubah, sehingga ketika musim kemarau terasa sangat panas.
Di wilayah Sumut ada dua kali musim kemarau dan dua kali musim penghujan.
Untuk musim kemarau terjadi Januari-Maret dan Juni-Juli. Dan kebetulan bulan ini jatuh pada musim kemarau, namun perubahan iklim yang tidak menentu menyebabkan kadangkadang hujan dan panas. Sedangkan musim penghujan April-Mei dan September-Desember. Terjadinya dua kali musim kemarau dan dua kali musim penghujan menurut Syafril, karena dua kali dilewati matahari. Namun kadang kala ada sedikit keterlambatan atau kecepatan sehingga menyebabkan perubahan iklim tidak menentu. Sebagai contoh, tahun 2006 kemarin terjadi keterlambatan musim hujan sampai pertengahan Januari. Jadi sampai pertengahan akhir Maret Sumatera Utara masih terasa kering. Hal itu, karena keterlambatan musim kemarau. Pada pertengahan Januari hujannya cukup banyak, sehingga kalau dilihat sekarang pertumbuhan awannya berada di Jawa. Namun sekarang mulai balik lagi ke wilayah Sumatera Barat, kemudian di sepanjang pantai Barat dan laut Jawa, tapi garis pertumbuhan awannya belum stabil.
Menyikapi perubahan iklim atau cuaca ini, pihak BMG sendiri memberikan informasi. Artinya BMG memberikan informasi prakiraan musim yakni musim kemarau maupun hujan, sehingga masyarakat tinggal mengantisipasi misalnya bertanam atau merencanakan pembangunan sesuai dengan prakiraan itu.
Selain itu juga BMG menggunakan prakiraan bulanan. Misalnya bulan ini cuaca normal atau di bawah normal, sektor pertanian atau untuk bidang-bidang peternakan bisa menyesuaikan dengan kondisi cuaca tersebut.
planet bumi bakal mengalami kenaikan suhu rata-rata 3,5 oC memasuki abad mendatang sebagai efek akumulasi penumpukan gas tersebut. Akibat yang muncul cukup mencemaskan antara lain meliputi : kenaikan permukaan laut akibat proses pencairan es di kutub; perubahan pola angin; meningkatnya badai atmosferik; bertambahnya populasi dan jenis organisme penyebab penyakit yang berdampak pada kesehatan; perubahan pola curah hujan dan siklus hidrologi serta perubahan ekosistem hutan, daratan dan ekosistem lainnya.
Para pakar lingkungan dunia selama bertahun-tahun telah mencoba mengumpulkan bukti-bukti ilmiah yang dapat menjelaskan fenomena alam ini, dan hasilnya cukup mengejutkan yaitu, iklim mulai tidak stabil. Pada Juni 1998 di Tibet terjadi gelombang udara panas, temperatur berkisar 25 oC selama 23 hari, kejadian ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kawasan Siberia, Eropa Timur dan Amerika Utara yang dikenal udaranya sangat membekukan tulang kini mulai menghangat.
Sementara Kairo pada Agustus 1998 tercatat suhu udara menembus angka 41 oC.
Pada Agustus 1998 di Sidney Australia terjadi badai besar disertai hujan dengan curah hujan mencapai tiga kali ukuran normal. Sementara di Indonesia, Meksiko dan
Spanyol terjadi musim kering berkepanjangan akibat dipicu oleh badai tropis yang berujung pada terbakarnya hutan dengan luasan kumulatif mencapai jutaan hektar. Kemudian, naiknya permukaan air laut di beberapa kawasan Asia dilaporkan bahwa air laut telah meluap melampaui batas air payau dan memusnahkan areal hutan bakau di kawasan tersebut.
Sementara di Fiji terjadi penyusutan garis pantai sepanjang 15 cm per tahun selama 90 tahun terakhir Berdasarkan hasil penelitian IPCC (1990) permukaan air laut telah naik sekitar 10-20 cm pada masa abad terakhir ini. Bila angka kenaikan permukaan air laut ini sampai menyentuh kisaran angka 20-50 cm maka habitat di daerah pantai akan mengalami gangguan bahkan musnah.
Sedangkan peningkatan sebesar 1 meter diprediksi akan mampu menggusur puluhan juta orang akibat terendamnya kota dan desa dikawasan pesisir, lahan pertanian produktif akan hancur terendam dan persediaan air tawar akan tercemar.
Perlu dilakukan tindakan menyeluruh disertai komitmen yang kuat untuk menghentikan meluasnya wabah bencana Secara sederhana tindakan yang bisa dilakukan adalah:
Pengembangan etika hemat energi dan ramah lingkungan. Budaya penghematan energi terutama yang terkait dengan energi yang dihasilkan dari bahan fosil (BBM) harus benar-benar dilaksanakan dengan penuh kesadaran.
Dalam bidang transportasi misalnya pemakaian kendaraan bermotor yang boros bahan bakar hendaknya semakin dikurangi yang juga dibarengi dengan upaya perancangan peraturan secara ketat untuk mengurangi pencemaran udara dalam berbagai bentuk.
Upaya penghematan pemakaian listrik konsumsi rumah tangga perlu terus diupayakan terutama bila pembangkit listriknya mempergunakan bahan bakar diesel/batu bara. Sebagai konsumen kita harus kritis melakukan penolakan untuk mempergunakan barang konsumsi dan peralatan yang masih mempergunakan CFC dalam produknya karena saat kita memakainya tak ubahnya kita menyediakan tali untuk menjerat leher kita sendiri di masa mendatang. Bahan CFC banyak dijumpai pada peralatan pendingin (Kulkas, AC) serta tabung penyemprot parfum.
Substitusi Bahan Bakar. Penggunaan gas alam dalam aktivitas rumah tangga maupun industri ternyata berperan cukup nyata dalam mengurangi tingkat emisi gas rumah kaca. Gas alam menghasilkan CO2 temyata 40 persen lebih rendah dibanding batu bara dan 25 persen lebih rendah daripada minyak bumi sehingga dengan menukar sumber bahan bakar kita bisa mengurangi tingkat emisi gas CO2.
Pelestarian Hutan dan Reboisasi. Keberadaan hutan ternyata berfungsi luar biasa dalam menyerap gas CO2 sehingga dapat memperlambat penimbunan gas-gas rumah kaca. Penelitian menunjukkan bahwa untuk menyerap 10 persen emisi CO2 yang ada di atmosfer saat ini diperlukan upaya penanaman setidaknya pada areal seluas negara Turki. Seandainya saja setiap jiwa di Sumatera Utara (jumlah penduduk Sumut sekitar 12 juta jiwa) menaman satu batang pohon maka setidaknya ada 12 juta pohon yang terhampar menjadi satu kawasan hutan baru yang akan mampu menyerap jutaan ton carbon.
Suatu jumlah yang cukup berarti bagi upaya pelestarian bumi. Perlu komitmen secara global untuk mengurangi kerusakan hutan akibat eksploitasi hutan maupun kebakaran hutan dan menggiatkan upaya reboisasi pada lahan kosong.
Kekeringan akibat kemarau berkepanjangan merupakan salah satu dampak dari perubahan iklim secara global. Sebenamya masih banyak langkah-langkah antisipatif yang dapat dilakukan terutama dalam tatanan kebijakan nasional dalam rangka mencegah pemanasan global, namun semuanya berpulang kembali kepada kesadaran kita semua selaku individu.
Kini saatnya berpartisipasi secara aktif bagi bumi yang telah memberikan kehidupan bagi kita. Bumi ini hanya satu mari kita menjaganya karena hal itu hanya akan mendatangkan bencana bagi penghuninya termasuk anak cucu kita. Mari kita wariskan bumi yang bersih dan generasi mendatang.
Perubahan Peruntukan Lahan
Terkait fenomena di atas, sejauh mana sebenarnya “sumbangsih” Indonesia bagi terjadinya perubahan iklim yang mengancam keberlangsungan nasib manusia di bumi ini.
Sebuah penelitian yang dilakukan Pew Center dalam perubahan iklim global bertajuk Climate Data: Insights and Observations yang dikeluarkan pada Desember 2004, dapat menjadi gambaran posisi negeri khatulistiwa ini. Misalnya dalam perubahan penggunaan lahan (land use change). Dalam skala global, penelitian yang melibatkan World Resources Institute ini, jumlah CO2 dari aspek ini perkirakan mencapai 18 persen dari total emisi tahunan. Penyebabnya antara lain akibat industri hutan, pembersihan dan pengelolaan lahan untuk pertanian. CO2 dari perubahan peruntukan lahan ini merupakan sepertiga dari total emisi dari negara berkembang dan lebih dari persennya berasal dari negara dunia ketiga.
Gambar
Peringkat suatu negara dalam penghitungan emisi global ini sangat tergantung kepada jenis gas yang dihitung. Jika dihitung dari sumbangsihnya akibat perubahan peruntukan lahan dan gas non CO2, maka Indonesia berada di posisi keempat.
Indonesia hanya berada di peringkat ke-25 dalam total emisinya jika dilihat dari sumbangsih CO2 akibat penggunaan bahan bakar fosil. Nasib sama juga dialami Brazil, yang jika dengan penghitungan perubahan peruntukan lahan dan gas non CO2, negara ini naik dari peringkat ke-17 menjadi peringkat kelima. “Bersama-sama, kedua negara mengumpulkan kira-kira 50 persen dari total perkiraan emisi CO2 global tahunan dari perubahan peruntukan lahan,” sebut hasil penelitian ini.
Intensitas Karbon dan Emisi per-Kapita Intesintas karbon, yaitu tingkat emisi CO2 per unit dari keluaran ekonomi (economic output), di Indonesia juga meningkat. Sepanjang 1990-2000, intensitas karbon di Indonesia, bersama-sama dengan Arab Saudi, Ukraina dan Brazil, naik secara signifikan.
Untuk emisi per kapita, “sumbangsih” Indonesia bersama-sama negara-negara lain juga memprihatinkan. Empat negara berkembang terbesar, yakni China, India, Indonesia dan Brazil, yang memiliki sekitar 44 persen populasi dunia, menyumbang sekitar 24 persen emisi global.
Memang, harus diakui, emisi per kapita ini memiliki keterkaitan erat dengan tingkat kesejahteraan rakyat suatu negara. Artinya, makin sejahtera rakyat suatu negara, maka tingkat rata-rata emisi per orang makin tinggi. Namun, seperti disimpulkan dari penelitian ini juga, jika ditambahkan dengan CO2 akibat perubahan peruntukan lahan, maka lagi-lagi Indonesia dan Brazil memiliki tingkat emisi per kapita lebih tinggi dibandingkan dengan Uni Eropa. Akhirnya, jika dihitung emisi kumulatifnya, yaitu “sumbangsih” suatu negara dalam perubahan iklim secara keseluruhan dibandingkan emisinya pada suatu waktu, posisi Indonesia juga menyesakkan dada.
Hasil penelitian Pew Center ini menjelaskan, “Pertumbuhan paling dramatis dalam sejarah pembagian adalah pada negara-negara tropis yang merupakan produsen besar kayu. Brazil dan Indonesia, dengan 0,9 persen dan 0,5 persen untuk emisi kumulatif bahan bakar fosil-berturut-turut-melompat hingga ke 6,2 persen dan 7,2 persen-berturut-turutdengan penambahan CO2 dari perubahan peruntukan lahan.”
Indonesia sulit untuk membantah hasil penelitian ini. Berbagai peristiwa yang berkaitan dengan hasil penelitian ini terus terjadi. Kebakaran hutan dan pembakaran lahan hampir selalu terjadi setiap tahun. Menyedihkannya lagi, kasus kebakaran hutan dan pembakaran lahan ini sampai-sampai merepotkan dan menyengsarakan negaranegara tetangga Indonesia yang pada akhirnya membuat citra negeri berlimpah sumber daya alam ini, makin terpuruk. Selain itu, berbagai fenomena bencana alam, yang diduga erat berkaitan dengan akibat terjadinya perubahan iklim juga makin sering menimpa berbagai daerah di Indonesia. Banjir bandang, tanah longsor, badai tropis, musim hujan dan musim kering yang makin sulit diprediksi, adalah sedikit gambaran lain dari pengaruh perubahan iklim itu. Secara global, laporan ilmiah IPCC pada Februari 2007 juga mengungkapkan beberapa temuan yang memprihatinkan terkait perubahan iklim itu. Penemuan itu, misalnya, pada periode1850-2005 telah terjadi kenaikan suhu rata-rata sebesar 0,76 derajat Celcius dan 11 dari 12 tahun terakhir (1995-2006) merupakan tahun-tahun dengan rata-rata suhu terpanas sejak dilakukannya pengukuran suhu pertama kali pada 1850. Kemudian, telah terjadi kenaikan permukaan laut global rata-rata sebesar 1,8 meter per tahun dan antara periode 1961-2003 telah terjadi kekeringan yang lebih intensif pada wilayah yang lebih luas sejak 1970-an, terutama di daerah tropis dan sub tropis. Sekadar tambahan, suhu udara di Medan yang saat ini (2007) diperkirakan lebih panas dan merupakan yang terpanas sejak 1987, kiranya juga harus dilihat dari kacamata perubahan iklim yang melanda Indonesia.
Dampak yang terjadi Sudah sejak lama para ahli mengkawatirkan efek yang timbul dari aktifitas manusia di permukaan bumi seperti pembakaran bahan bakar fosil untuk kendaraan, proses industri, penyediaan listrik dan proses penebangan hutan yang dapat mengeluarkan sejumlah besar Gas Rumah Kaca (GRK) yang menutupi lapisan azon di atmosfer bumi. Semakin tebal GRK menutupi lapisan di atmosfer menyebabkan panas yang dipancarkan matahari ke bumi terperangkat. Akibatnya temperatur permukaan bumi perlahan-lahan terus mengalami peningkatan. Peningkatan ternperatur ini disebut pemanasan global.
Terjadinya pemanasan global ditandai dengan terjadinya perubahan iklim yang secara cepat menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan manusia dan lingkungan, baik pada saat sekarang maupun waktu yang akan datang. Misalnya pemanasan global diperkirakan menyebabkan terjadinya kenaikkan suhu bumi rata-rata. Di Indonesia kenaikkan telah terjadi peningkatan suhu udara sebesar 0,3 oC sejak tahun 1990, dan peningkatan ini diperkirakan akan terus terjadi. Selain itu akibat dari pemanasan global juga mempengaruhi kondisi hutan. Dengan perubahan iklim diperkirakan akan terjadi pergantian beberapa spesies flora dan fauna yang terdapat di dalam hutan. Beberapa spesies akan terancam punah karena tidak mampu beradaptasi, sedangkan spesies yang mampu bertahan akan berkembang tidak terkendali. Begitu juga dengan kebakaran hutan akibat terjadinya peningkatan suhu udara di lingkungan sekitar hutan semakin tidak dapat terelakkan. Peningkatan suhu yang terjadi dalam masa yang cukup lama, seperti musim kemarau panjang mengakibatkan mudah terbakar ranting-ranting atau daun-daun akibat gesekan yang ditimbulkan.
Dampak lain dari pemanasan global juga terjadi pada pertanian karena adanya pergeseran musim dan perubahan pola hujan. Pada umumnya semua bentuk sistem pertanian sangat sensitif terhadap variasi iklim. Terjadinya keterlambatan musim tanam atau panen akan memberikan dampak yang besar baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti ketahanan pangan, industri pupuk, transportasi dan lain sebagainya.
Meningkatnya frekwensi penyakit tropis, seperti malaria dan demam berdarah juga terjadi dari pemanasan global. Hal ini disebabkan oleh naiknya suhu udara yang menyebakan masa inkubasi nyamuk semakin pendek. Dampaknya, nyamuk malaria dan demam berdarah akan berkembang biak lebih cepat.
Diperkirakan dengan adanya pemanasan global permukaan air laut mengalami peningkatan. Dan berbagai studi Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memperlihatkan bahwa telah terjadi kenaikkan permukaan air laut sebesar 1-2 meter dalam 100 tahun terakhir. Masih menurut IPCC, pada tahun 2030 permukaan air laut akan bertambah antara 8-9 sentimeter dan permukaan laut saat ini. Sebagai dampak naiknya permukaan air laut, banyak pulau-pulau kecil dan daerah landai di Indonesia akan hilang. Apabila perkiraan IPCC terjadi, diperkirakan Indonesia akan kehilangan 2.000 pulau. Hal ini tentunya akan menyebabkan mundurnya garis pantai di sebagian besar wilayah Indonesia. Akibatnya, bila ditarik garis batas 12 mil laut dari garis pantai, maka sudah tentu luas wilayah Indonesia akan berkurang. Bukan itu saja, selain naiknya permukaan air laut, suhu air laut juga mengalami peningkatan sebesar 2-3 derajat celcius. Bila ini terjadi, alga yang merupakan sumber makanan akan mati karena tidak mampu beradaptasi dengan peningkatan suhu air laut. Hal ini berdampak pada menipisnya ketersediaan makanan terumbu karang. Akhirnya terumbu karang pun akan berubah warna menjadi putih dan mati.
Pemutihan karang berimbas punahnya berbagai jenis ikan karang yang bernilai ekonomis tinggi, seperti ikan. Padahal Indonesia mempunyai dari 1.650 jenis ikan karang, itu pun hanya yang terdaftar di wilayah Indonesia bagian timur saja belum terhitung yang berada di wilayah lainnya.
Pencegahan Dengan berbagai akibat perubahan iklim tersebut, tak terkecuali yang melanda Indonesia, yang lebih utama disebabkan oleh tingkah dan polah manusia, maka untuk memperbaikinya juga harus memperbaiki perlakuan manusia terhadap alam atau bumi secara global pula. Kita dituntut untuk mengubah gaya hidup kita yang selama ini tidak ramah kepada lingkungan hidup.
Sebagai langkah pencegahan yang bisa dilakukan untuk menahan laju perubahan iklim yang berakibat ekstrim itu adalah dengan mengurangi emisi GRK hasil aktivitas manusia. Caranya antara lain bisa dengan menggunakan bahan bakar dari sumber energi yang lebih bersih atau menggunakan sumber energi terbarukan. Biodiesel, gas, tenaga matahari atau biomassa merupakan sumber energi yang ramah terhadap lingkungan.
Sebuah penelitian di satu industri manufaktur di Cilegon, penggunaan gas bisa menurunkan emisi GRK di industri ini hingga sebesar 31 persen dibandingkan ketika menggunakan batubara. Langkah penting lainnya adalah Pemerintah Indonesia harus segera mengubah kebijakannya dalam pembangunan yang sedang dilakukan. Dalam setiap kebijakan ini, maka aspek lingkungan hidup mesti menjadi salah satu pertimbangan utama. Kemudian, secara global, negara ini juga harus lebih meningkatkan peran aktifnya dalam menjaga lingkungan hidup dunia dengan mengacu kepada Protokol Kyoto, yang sudah diratifikasi menjadi Undang-undang (UU) No 17/2004.
Bagi Indonesia, ini sangat penting. Karena ternyata, perubahan iklim tersebut akan berdampak sangat besar bagi Indonesia, seperti menurunnya produksi pangan, terganggunya ketersediaan air dan meningkat dan meluasnya kasus penyakit. Semua langkah ini, implementasinya membutuhkan perilaku dan cara pandang lebih ramah terhadap alam. Jika perilaku dan pandangan terhadap alam masih seperti saat ini, maka bukan tidak mungkin negeri kita yang dulu dikenal sebagai negeri Zamrud Khatulistiwamenjadi sebuah negeri yang paling menderita akibat perubahan iklim tersebut.
Berbagai bencana yang terjadi belakangan ini, mungkin bisa menyadarkan kita bahwa alam membutuhkan perlakuan setara, sebagai sahabatnya, dari manusia.
MENGURANGI GAS RUMAH KACA
Alternatif Penanggulangan
Dampak yang ditimbulkan dari pemanasan global disebabkan adanya GRK dihasilkan dari aktifitas masyarakat, berbagai negara terus berupaya untuk menekan jumlah GRK yang dihasilkan dengan cara mencari berbagai alternatif seperti tidak mempergunakan minyak fosil secara berlebihan.
Salah satu upaya untuk menekan GRK, lahirnya konvensi perubahan iklim pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi (Earth Summit) tentang Pembangunan Berkelanjutan di Rio de Janeiro Brasil pada bulan Juni 1992 silam. Dan hasil konferensi tersebut telah disepati dan disyahkan perjanjian di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk me ngadopsi rencana-rencana besar yang terkait dengan upaya konservasi lingkungan.
Sekedar menyegarkan ingatan, Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang perubahan iklim (Konverensi Perubahan Iklim) dibuat berdasarkan gagasan dan program untuk menekan emisi GRK secara internasional sejak tahun 1979. Konverensi diadopsi pada tanggal 14 Mei 1992 dan mulai berlaku tanggal 21 Maret 1994.
Untuk Indonesia, pemerintah telah juga meratifikasi pada tanggal 23 Agustus 1994 melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994 tentang pengesahan United Nations Framework Convention on Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Iklim). Konvensi Perubahan Iklim adalah suatu perjanjian multi lateral untuk meningkatkan negara dalam upaya menurunkan emisi GRK untuk menjaga stabil itas konsentrasi GRK di atmosfer pada tingkat aman bagi sistem iklim di bumi.
Pertanyaanya, sudah sejauh mana negara Indonesia yang ikut dalam Konvensi Perubahan Iklim berupaya untuk mengurangi emisi GRK. Bila dilihat secara kasat mata, negara Indonesia masih belum mampu mengurangi emisi GRK. Besarnya GRK yang dihasilkan Indonesia dengan penggunaan bahan minyak fosil, tidaklah mengherankan bila Indonesia masuk dalam daftar negara penghasil GRK terbesar.
Meski upaya untuk mengurangi GRK belum maksimal, bukan berarti upaya tersebut tidak dilakukan. Untuk menahan laju perubahan iklim yang sangat ditekankan dengan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batubara dan gas, dengan cara beralih ke bahan bakar yang memiliki emisi yang lebih rendah seperti penggunaan gas dan energi dari sumber terbarukan, atau melakukan program efisiensi energi. Ini efektif dilakukan di sektor industri dan pembangkit listrik. Kedua sektor ini termasuk penghasil emisi GRK utama di Indonesia, dan memiliki konsumsi energi per kapita yang tinggi.
Menggantikan penggunaan batubara atau diesel menjadi gas bisa menghasilkan penurunan emisi GRK yang signifikan. Beralih menggunakan sumber energi terbarukan bisa mengurangi emisi GRK dalam jumlah yang lebih besar. Dengan semakin tingginya harga minyak bumi, sumber energi terbarukan menjadi pilihan yang semakin menarik.
Kerusakan hutan yang semakin parah dan diiringi dengan terjadinya musibah seperti banjir, tanah longsor yang beruntun dan merengut nyawa dalam jumlah cukup banyak berikut harta yang tak ternilai, merupakan persoaIan yang tidak kunjung tuntas.
Bukan itu saja, kekhawatiran pada penggundulan serta terjadinya pembakaran hutan yang berakibat meningkatnya suhu panas bumi, juga ikut menambah daftar persoalan yang muncul dan tidak mungkin dihindari.
Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan, ternyata sejak tahun 1861 sebagai masa pertama pencatatan suhu bumi, maka rata-rata suhu global meningkat selama abad ke-20. Alhasil, keberadaan hutan kita sudah tidak dapat lagi menyuplai kebutuhan kayu untuk industri dan lain sebagainya. Tidak dapat disangkal lagi, ternyata untuk Sumut sendiri, diperkirakan dari 3,7 Juta Hektar lahan hutan yang ada, maka setengahnya sudah rusak atau dalam kondisi kritis. Kalau kita tidak segera mengambil sikap tegas untuk mencegah perambahan, pembakaran atau penggundulan hutan, maka negeri ini akan tandus dan gersang yang dipastikan akan diikuti dengan berbagai bentuk bencana mengerikan. Bahkan sebelum itu semua terjadi, ada satu hal yang juga merisaukan kita, karena ternyata dalam catatan salah satu badan lingkungan dunia, ternyata Indonesia merupakan produsen ketiga terbesar penghasil gas emisi setelah USA dan China. Dari beberapa sumber disebutkan bahwa, usaha untuk mengurangi produk karbon dioksida (CO2) dengan mencegah terjadinya pembakaran hutan menjadi salah satu solusi terbaik meredusir peningkatan emisi gas tersebut selain penghematan energi dan lain sebagainya.
Moratorium
Terjadinya pembakaran serta penggundulan hutan secara besarbesaran menjadi pemicu utama kita meraih predikat buruk tersebut. Predikat ini tentu bertolak belakang dengan identitas yang melekat pada bumi Indonesia yang tersohor dengan hutannya.
Karenanya, pemerintah harus segera rnenerapkan Moratorium (jeda tebang-red) hutan untuk menghentikan segala bentuk pengrusakan yang masih terus berlangsung. Dengan jeda tebang tersebut, secara otomatis potensi hutan kita tidak akan terusik, yang berarti juga hutan akan membangun dirinya secara alami.
Walaupun konsep ini dinilai lambat, tapi jauh lebih efektif dari pada digalakkan reboisasi hutan, tapi ternyata konversi atau pengalihan fungsi hutan tidak dikendalikan.
Selain itu, upaya penegakan hukum yang dilakukan aparatur penegak hukum kita, seperti Operasi Hutan Lestari II tidak dilakukan secara seporadis. “Mustahil operasi tersebut maksimal kalau tidak dilakukan secara rutin dan berkesinambungan. Kalau dihitung-hitung upaya rehabilitasi maupun reboisasi ternyata tidak sebanding dengan akibat yang ditimbulkan dan pengrusakan hutan.
Bukankah sudah cukup banyak kasus atau musibah yang terjadi karena pengrusakan hutan tersebut. Dan penting dicamkan, bahwa bencana tersebut akan berakibat orang lain yang ticiak berdosa ikut menjadi korban serta rnenanggung akibatnya. Bukan itu saja, karena bencana akan terus terjadi kalau alam serta hutan makin parah. Karena itu, seluruh masyarakat sebaiknya turut serta secara global untuk menjadikan hutan sebagai bagian dari upaya untuk menyelamatkan diri kita sendiri.
BORAKS DAN FORMALIN PADA MAKANAN
BAB I
PENDAHULUANPada bab I ini akan dijelaskan mengenai latar belakang masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, metode penelitian, hipotesa dan manfaat.1.1 Latar Belakang MasalahSekarang ini banyak sekali bahan kimia dan berbagai campuran-campuran lain dibuat dan diciptakan untuk membuat pekerjaan manusia dalam membuat makanan lebih efektif dan efisien. Tetapi di samping untuk makanan dibuat juga bahan kimia untuk pembuatan kebutuhan lain. Di mana bahan kimia tersebut tidak boleh dipergunakan dalam pembuatan makanan dan dapat berakibat fatal.
Hal ini sangat penting dan juga memprihatinkan. Fenomena ini merupakan salah satu masalah dan kebobrokan bangsa yang harus diperbaiki. Janganlah sampai membiarkan hal ini terus berlarut dan akhirnya akibat menumpuk di masa depan. Oleh karena itu, kami berusaha merangkum sedemikian rupa dan mencoba membedah apa saja yang seharusnya dilakukan dan mengapa hal ini menjadi hal yang sangat penting.1.2 Pembatasan Masalah
Boraks adalah bahan kimia yang digunakan sebagai pengawet kayu, antiseptik kayu dan pengontrol kecoa. Sedangkan formalin adalah bahan kimia yang digunakan sebagai desinfektan, pembasmi serangga dan dalam industri tekstil serta kayu lapis.
Kedua bahan kimia tersebut memang berguna jika digunakan sesuai fungsinya, tetapi menjadi sangat berbahaya bila digunakan dalam pembuatan pangan. Di mana pangan itu merupakan segala sesuatu yang menjadi bahan makanan manusia. Dan akibat dari penggunaan bahan-bahan kimia tersebut bisa jadi sangatlah fatal, dari kanker hingga menyebabkan kematian.
Dalam karya tulis ini kami akan berusaha membahas pendeskripsian sedetail mungkin dari boraks dan formalin itu sendiri serta bagaimana kedua bahan kimia tersebut dapat digunakan sebagai salah satu bahan baku pembuatan pangan. Begitu pula dengan berbagai akibat dari penggunaan boraks dan formalin pada pangan tersebut serta bagaimana solusi yang harus dilakukan demi membasmi hal ini dan mencegah terjadi lagi.
1.3 Perumusan Masalah
1 Apa faktor yang mendorong pihak-pihak tertentu untuk menggunakan boraks atau formalin pada pangan yang diproduksinya?
2 Jenis pangan apa saja yang menjadi sasaran penggunaan boraks atau formalin pada proses pembuatannya?
3 Bagaimana mengetahui suatu pangan dibuat dengan bahan pengawet dari boraks atau formalin?
4 Apa akibat dari penggunaan boraks atau formalin pada produk pangan?
5 Bagaimana penanganan penggunaan boraks dan formalin pada produk pangan ini supaya dapat dibasmi secara tuntas?
1.4 Tujuan Penulisan
Mengetahui pengertian boraks dan formalin.
Mengetahui jenis-jenis pangan yang menjadi sasaran penggunaan boraks dan formalin pada proses pembuatannya.
Mengetahui dampak negatif dari penggunaan boraks dan formalin pada produk pangan.
Mengetahui peranan pemerintah dalam memberantas penggunaan formalin dan boraks pada makanan.
1.5 Metode Penulisan
Pada penulisan karya tulis ini kami menggunakan satu metode, yaitu dengan angket. Di mana angket akan kami sebarkan dengan jumlah 40 lembar. Di mana angket itu berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai boraks dan formalin pada makanan mengacu pada tujuan yang telah ada.
1.6 Hipotesa
1 Boraks dan formalin merupakan bahan pengawet yang umumnya digunakan untuk industri tekstil, kayu, dsb. Dapat juga digunakan sebagai pembasmi serangga dan hal-hal lain yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan makanan.
2 Jenis pangan yang menjadi sasaran penggunaan boraks atau formalin pada proses pembuatannya adalah tahu, tempe, bakso dan ikan asin.
3 Akibat dari penggunaan boraks atau formalin pada produk pangan adalah berbagai gangguan pada saluran pencernaan, hati, saraf, otak, serta pada organ-organ yang berselaput yang terkena secara langsung. Dan bila terjadi secara terus menerus dapat menyebabkan kanker bahkan kematian.
4 Sebenarnya pemerintah telah berperan dalam pemberantasan penggunaan boraks dan formalin pada produk makanan. Tetapi tindakan-tindakan yang dilakukan pemerintah kurang tegas dan tidak tepat mengenai sasaran. Sehingga hingga sekarang kita masih sering melihat orang-orang yang keracunan atau terkena penyakit lainnya, disebabkan memakan makanan yang mengandung boraks atau formalin.
1.7 Manfaat
Dapat mengetahui cirri-ciri makanan dengan bahan baku boraks atau formalin sebagai pengawet sehingga dapat menghindarinya.
Dapat menghindari secara langsung penggunaan boraks dan formalik pada produk pangan.
Dapat menambah wawasan dengan mengetahui dampak yang diakibatkan dari penggunaan boraks dan formalin pada produk pangan.
Dapat membantu pencegahan dan pemberantasan penggunaan boraks dan formalin dengan berbagai solusi yang telah dipikirkan.
BAB II
LANDASAN TEORIBoraks merupakan garam natrium yang banyak digunakan di berbagai industri nonpangan, khususnya industri kertas, gelas, pengawet kayu, dan keramik. Boraks biasa berupa serbuk kristal putih, tidak berbau, mudah larut dalam air, tetapi boraks tidak dapat larut dalam alkohol. Boraks biasa digunakan sebagai pengawet dan antiseptic kayu. Daya pengawet yang kuat dari boraks berasal dari kandungan asam borat didalamnya.
Asam borat sering digunakan dalam dunia pengobatan dan kosmetika. Misalnya, larutan asam borat dalam air digunakan sebagai obat cuci mata dan dikenal sebagai boorwater. Asam borat juga digunakan sebagai obat kumur, semprot hidung, dan salep luka kecil. Namun, bahan ini tidak boleh diminum atau digunakan pada luka luas, karena beracun ketika terserap masuk dalam tubuh. Berikut beberapa pengaruh boraks pada kesehatan.
a. Tanda dan gejala akut :
Muntah-muntah, diare, konvulsi dan depresi SSP(Susunan Syaraf Pusat)
b. Tanda dan gejala kronis
- Nafsu makan menurun
- Gangguan pencernaan
- Gangguan SSP : bingung dan bodoh
- Anemia, rambut rontok dan kanker.
Sedangkan formalin merupakan cairan tidak berwarna yang digunakan sebagai desinfektan, pembasmi serangga, dan pengawet yang digunakan dalam industri tekstil dan kayu. Formalin memiliki bau yang sangat menyengat, dan mudah larut dalam air maupun alkohol. Beberapa pengaruh formalin terhadap kesehatan adalah sebagai berikut.
a. Jika terhirup akan menyebabkan rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan , sukar bernafas, nafas pendek, sakit kepala, dan dapat menyebabkan kanker paru-paru.
b. Jika terkena kulit akan menyebabkan kemerahan pada kulit, gatal, dan kulit terbakar
c. Jika terkena mata akan menyebabkan mata memerah, gatal, berair, kerusakan mata, pandangan kabur, bahkan kebutaan
d. Jika tertelan akan menyebabkan mual, muntah-muntah, perut terasa perih, diare, sakit kepala, pusing, gangguan jantung, kerusakan hati, kerusakan saraf, kulit membiru, hilangnya pandangan, kejang, bahkan koma dan kematian.
Boraks dan formalin akan berguna dengan positif bila memang digunakan sesuai dengan seharusnya, tetapi kedua bahan itu tidak boleh dijadikan sebagai pengawet makanan karena bahan-bahan tersebut sangat berbahaya, seperti telah diuraikan diatas pengaruhnya terhadap kesehatan. Walaupun begitu, karena ingin mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, banyak produsen makanan yang tetap menggunakan kedua bahan ini dan tidak memperhitungkan bahayanya. Pada umumnya, alasan para produsen menggunakan formalin dan boraks sebagai bahan pengawet makanan adalah karena kedua bahan ini mudah digunakan dan mudah didapat, karena harga nya relatif murah dibanding bahan pengawet lain yang tidak berpengaruh buruk pada kesehatan. Selain itu, boraks dan formalin merupakan senyawa yang bisa memperbaiki tekstur makanan sehingga menghasilkan rupa yang bagus, misalnya bakso dan kerupuk. Beberapa contoh makanan yang dalam pembuatannya sering menggunakan boraks dan formalin adalah bakso, kerupuk, ikan, tahu, mie, dan juga daging ayam.
Formalin dan boraks merupakan bahan tambahan yang sangat berbahaya bagi manusia karena merupakan racun. Bila terkonsumsi dalam konsentrasi tinggi racunnya akan mempengaruhi kerja syaraf. Secara awam kita tidak dapat mengetahui seberapa besar kadar konsentrat formalin dan boraks yang digunakan dalam suatu makanan. Oleh karena itu lebih baik hindari makanan yang mengandung formalin dan boraks. Berikut adalah beberapa cara mengidentifikasi makanan yang menggunakan formalin dan boraks.
- Bakso yang menggunakan boraks memiliki kekenyalan khas yang berbeda dari kekenyalan bakso yang menggunakan banyak daging.
- Kerupuk yang mengandung boraks kalau digoreng akan mengembang dan empuk, teksturnya bagus dan renyah.
- Ikan basah yang tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar, insang berwarna merah tua
dan tidak cemerlang, dan memiliki bau menyengat khas formalin.
- Tahu yang berbentuk bagus, kenyal, tidak mudah hancur, awet hingga lebih dari
3 hari, bahkan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es, dan berbau menyengat khas formalin.
- Mie basah biasanya lebih awet sampai 2 hari pada suhu kamar (25 derajat celcius), berbau
menyengat, kenyal, tidak lengket dan agak mengkilap.BAB III
METODE PENELITIANPada bab 3 ini akan dijelaskan mengenai jenis penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data dan teknik analisa data.3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang kami gunakan adalah penelitian korelatif. Yang di maksud dengan penelitian korelatif adalah penelitian yang menghubungkan data-data yang ada. Sesuai dengan pengertian tersebut kami menghubungkan data-data yang kami dapat antara yang satu dengan yang lain. Selain itu kami juga menghubungkan data-data yang ada dengan landasan teori yang kami gunakan. Sehingga diharapkan penelitian kami bisa menjadi penelitian yang benar dan tepat.3.2 Sumber data
Sumber data kami adalah beberapa siswa SMA Kanisius, yang kira-kira kami ambil sampel adalah 40 siswa.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah dengan angket. Dengan angket kami dapat menyimpulkan, melalui jumlah koresponden yang menjawab pertanyaan tertentu dan membandingkan jumlah koresponden yang menjawab dengan jawaban yang berbeda pada pertanyaan yang sama. Dan setiap dari pertanyaan itu akan saling berkaitan.
3.4 Teknik Analisis Data
Cara kami dalam menganalisis data yang kami dapat yaitu dengan pertama-tama memastikan bahwa semua data dan landasan teori yang diperlukan telah diperoleh dengan baik. Lalu kami mulai menghitung jumlah data, setelah itu kami mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari tiap pertanyaan pada angket berdasarkan jumlah responden yang memilih. . Langkah berikutnya, sesuai dengan jenis penelitian kami, kami menghubungkan data-data yang satu dengan yang lain dan juga dengan landasan teori yang ada. Langkah terakhir, kami menuangkannya dalam karya tulis ini.
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai apa itu boraks dan formalin, dampak penggunaan boraks dan formalin pada makanan dan jenis-jenis makanan yang mengandung boraks dan formalin yang kesemuanya itu dilengkapi dengan hasil angket sebelumnya.
4.1 Pengetahuan akan Boraks dan Formalin
Menurut hasil angket kami, didapatkan bahwa yang mengetahui secara pasti apa itu boraks dan formalin adalah 29 orang dan yang tidak mengetahui begitu pasti apa itu boraks dan formalin adalah 11 orang, dari total 40 angket yang dibagikan.
Hal itu menunjukkan bahwa responden yang mengetahui secara persis apa itu boraks dan formalin lebih banyak daripada yang tidak mengetahui secara pasti. Jika dimasukkan dalam persen maka 72,5 % responden menyatakan mengetahui boraks dan formalin, sedangkan 27,5 % lainnya tidak begitu mengetahui tentang boraks dan formalin.
Hasil ini menunjukkan bahwa penyuluhan dan pengetahuan akan boraks dan formalin harus lebih sering disosialisasikan, agar diharapkan kita semua mengetahui secara pasti apa itu boraks dan formalin, sehingga dapat menggunakannya secara benar, sesuai dengan fungsinya. Maka diharapkan juga dengan pengetahuan akan boraks dan formalin tersebut, kasus penggunaan boraks dan formalin pada bahan makanan dapat dikurangi bahkan menghilang dari masyarakat.
4.2 Dampak Penggunaan Boraks dan Formalin Pada Makanan
Melalui hasil angket yang telah kami sebarkan sebelumnya, didapat hasil bahwa jumlah responden yang mengerti akan dampak angket hamper sama dengan responden yang tidak begitu tahu tentang dampak boraks dan formalin pada makanan. Adapun jumlah responden yang tahu dampak boraks dan formalin pada makanan adalah 18 orang dan yang tidak begitu tahu sebanyak 20 orang sedangkan yang sama sekali tidak tahu ada 2 orang. Jika dituangkan dalam presentasi adalah sebagai berikut :
1. Jawaban A : 45%
2. Jawaban B : 5%
3. Jawaban C :50%
Dari hasil tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar responden masih rancu atau bingung tentang apa dampak boraks dan formalin bagi tubuh tersebut.
Lalu apa sebenarnya dampak boraks dan formalin dalam makanan bila dikonsumsi tubuh kita?
a. Formalin
Formalin tidak boleh digunakan sebagai bahan pengawet untuk pangan. Akibatnya jika digunakan pada pangan dan dikonsumsi oleh manusia akan menyebabkan beberapa gejala diantaranya adalah tenggorokan terasa panas dan kanker yang pada akhirnya akan mempengaruhi organ tubuh lainnya,serta gejala lainnya.
Pengaruh Formalin Terhadap Kesehatan :
· Jika terhirup
Rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan , sukar bernafas, nafas pendek, sakit kepala, kanker paru-paru.
· Jika terkena kulit
Kemerahan, gatal, kulit terbakar
· Jika terkena mata
Kemerahan, gatal, mata berair, kerusakan mata, pandangan kabur, kebutaan
· Jika tertelan
Mual, muntah, perut perih, diare, sakit kepala, pusing, gangguan jantung, kerusakan hati, kerusakan saraf, kulit
membiru, hilangnya pandangan, kejang, koma dan kematian.
b. Boraks
Efek toksiknya akan terasa bila boraks dikonsumsi secara kumulatif dan penggunaannya berulang-ulang. Pengaruh terhadap kesehatan :
· Tanda dan gejala akut :
Muntah, diare, merah dilendir, konvulsi dan depresi SSP (Susunan Syaraf Pusat)
· Tanda dan gejala kronis
- Nafsu makan menurun
- Gangguan pencernaan
- Gangguan SSP : bingung dan bodoh
- Anemia, rambut rontok dan kanker.
Formalin dan boraks merupakan bahan tambahan yang sangat berbahaya bagi manusia karena merupakan racun. Bila terkonsumsi dalam konsentrasi tinggi racunnya akan mempengaruhi kerja syaraf. Secara awam kita tidak tahu seberapa besar kadar konsentrat formalin dan boraks yang dianggap membahayakan. Oleh karena ada baiknya kita hindari makanan yang mengandung formalin dan boraks. Jauhkan anak-anak dari makanan yang mengandung boraks dan formalin. Formalin dan boraks tidak boleh digunakan dalam makanan.
4.3 Makanan yang Biasanya Mengandung Formalin atau Boraks
Berdasarkan hasil penelitian melalui angket yang telah kami sebarkan, jumlah responden yang menganggap bahwa tahu dan bakso adalah makanan yang paling sering diberi formalin sebanyak 33 orang, sedangkan yang memilih ikan sebanyak 6 orang, dan 1 orang memilih kerupuk. Sedangkan menurut makanan-makanan yang biasa mengandung boraks dan formalin yang biasanya mereka konsumsi, jumlah responden yang memilih tahu dan bakso sebanyak 28 orang, 10 orang memilih ikan dan 2 orang memilih kerupuk.
Data ini menunjukkan bahwa kebanyakan siswa SMA Kanisius beranggapan bahwa tahu dan bakso merupakan makanan yang biasanya diberi formalin atau boraks. Tahu dan bakso memang cukup dikenal sering diberi formalin maupun boraks, namun bukan mereka makanan yang paling sering diberi formalin maupun boraks. Berdasarkan penelitian Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia tahun 2005, penggunaan boraks formalin pada ikan dan hasil laut menempati peringkat teratas. Yakni, 66 persen dari total 786 sampel. Sementara mi basah menempati posisi kedua dengan 57 persen. Tahu dan bakso berada di urutan berikutnya yakni 16 persen dan 15 persen.
Dan dari pertanyaan nomor tiga pada angket ternyata responden banyak menjawab bahwa mereka paling sering mengkonsumsi tahu dan bakso. Padahal, menurut kebanyakan dari mereka tahu dan bakso adalah makanan yang biasanya mengandung boraks atau formalin. Mengapa mereka masih tetap sering mengonsumsinya meskipun menganggap bahwa tahu dan boraks yang paling sering mengandung formalin dan boraks? Mungkin hal ini disebabkan karena siswa SMA Kanisius percaya bahwa para pedagang di Kanisius pasti tidak memberikan formalin maupun boraks pada dagangannya, maka mereka tidak takut untuk mengonsumsinya.
Namun tetap saja, boraks dan formalin sangatlah berbahaya bila termakan. Walaupun berdasarkan hasil penelitian Badan Pengawasan Obat dan Makanan Indonesia tahun 2005 penggunaan boraks dan formalin paling banyak adalah pada ikan dan hasil laut, namun jumlah 16 persen dan 15 persen tetap merupakan jumlah yang besar. Kita harus berhati-hati dalam memilih makanan yang akan kita makan, terutama makanan-makanan yang sedang marak diberi boraks maupun formalin.
Oleh karena itu, di bawah ini kami paparkan mengenai ciri-ciri dari beberapa makanan yang diberi boraks maupun formalin:
a. Mi basah
Penggunaan formalin pada mi basah akan menyebabkan mi tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius). Baunya agak menyengat, bau formalin. Tidak lengket dan mie lebih mengkilap dibandingkan mie normal. Penggunaan boraks pada pembuatan mi akan menghasilkan tekstur yang lebih kenyal.
B. Tahu
Tahu merupakan makanan yang banyak digemari masyarakat, karena rasa dan kandungan gizinya yang tinggi. Namun dibalik kelezatannya kita perlu waspada karena bisa saja tahu tersebut mengandung bahan berbahaya. Perhatikan secara cermat apabila menemukan tahu yang tidak mudah hancur atau lebih keras dan kenyal dari tahu biasa, kemungkinan besar tahu tersebut mengandung bahan berbahaya, bisa formalin maupun boraks. Selain itu, tahu yang diberi formalin tidak akan rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius). Tahu juga akan terlampau keras, namun tidak padat. Bau agak mengengat, bau formalin.
C. Bakso
Bakso tidak rusak sampai lima hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius). Teksturnya juga sangat kenyal.
D. Ikan segar
Ikan segar yang diberi formalin tekstur tubuhnya akan menjadi kaku dan sulit dipotong. Ia tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius). Warna insang merah tua dan tidak cemerlang, bukan merah segar dan warna daging ikan putih bersih.
E. Ikan asin
Ikan asin yang mengandung formalin akan terasa kaku dan keras, bagian luar kering tetapi bagian dalam agak basah karena daging bagian dalam masih mengandung air. Karena masih mengandung air, ikan akan menjadi lebih berat daripada ikan asin yang tidak mengandung formalin. Tidak rusak sampai lebih dari 1 bulan pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius). Tubuh ikan bersih, cerah.
4.4 Peran pemerintah dalam memberantas boraks dan formalin di Indonesia
Walaupun penyebaran boraks dan formalin di Indonesia sudah luas sekali dan sudah menjadi umum, pemerintah masih tidak mengambil langkah yang tegas dalam menangani hal ini. Buktinya bisa didapat, bahwa ternyata penggunaan formalin dan boraks sebagai bahan pengawet makanan masih merajalela.
Sebenarnya, pemerintah sudah berusaha mengambil tindakan, yaitu dengan melalui Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Beberapa langkah sudah diambil oleh BPOM, seperti : melarang panganan permen merek white rabbit creamy, kiamboy, classic cream, black currant, dan manisan plum; mengeluarkan permenkes no. 722/1998 tentang bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam pangan; dan melakukan sosialisasi penggunaan bahan tambahan makanan yang diizinkan dalam proses produksi makanan & minuman sesuai UU No. 23/1992 untuk aspek keamanan pangan, & UU No. 71/1996. Tetapi upaya yang dilakukan Badan POM tersebut, hanya dianggap gertakan oleh para pedagang, karena Badan POM hanya mengeluarkan undang-undang dan aturan. Tetapi Badan POM tidak melakukan tindakan tegas seperti memberi sanksi tegas bagi pedagang yang masih menggunakan boraks dan formalin, bahkan badan ini masih kurang gencar dalam melakukan razia.
Dari data angket yang kami sebarkan ke beberapa responden, terdapat pertanyaan : “Menurut anda apakah peran pemerintah sudah ada dalam pemberantasan formalin? “ Dan dari pertanyaan itu, sebanyak 4 orang menjawab upaya pemerintah sudah banyak, sebanyak 17 orang menjawab upaya pemerintah sudah lumayan, dan terakhir 19 orang menjawab upaya pemerintah tidak ada sama sekali.
Dari hasil angket diatas, dapat disimpulkan bahwa upaya pemerintah masih kurang, karena lebih banyak orang yang beranggapan bahwa upaya pemerintah masih sangat kurang. Ini mungkin disebabkan karena memang pemerintah kurang serius / tegas dalam menangani masalah ini, padahal ini adalah masalah yang serius, karena dapat membahayakan kesehatan manusia. Pemerintah seharusnya lebih gencar dalam menangani masalah ini.
BAB V
PENUTUPDalam bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan dan saran.5.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada bab IV dapat disimpulkan bahwa:
a. Sebagian besar dari kita telah mengetahui tentang boraks dan formalin secara pasti, tetapi ada juga sebagian kecil lainnya yang belum begitu mengetahui apa itu boraks dan formalin.
b. Masih ada sebagian dari kita yang belum mengetahui secara pasti dampak penggunaan boraks dan formalin pada produk makanan, walaupun sebagian ada yang mengetahui secara pasti.
c. Menurut responden tahu dan bakso adalah makanan yang paling sering menjadi sasaran penggunaan boraks dan formalin. Tetapi menurut penelitian BPOM pada tahun 2005, ikan adalah bahan makanan yang paling sering menjadi sasaran boraks dan formalin.
d. Pemerintah masih sangat kurang dan tidak tegas dalam mengatasi masalah penggunaan boraks dan formalin, sehingga masih banyak kasus mengenai hal ini terjadi.5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan dan keseluruhan makalah ini kami ingin memberikan beberapa saran sebagai berikut:
Ø Berikan penyuluhan lebih lanjut kepada masyarakat mengenai boraks dan formalin, pengertian, fungsinya, serta dampaknya apabila tidak digunakan sesuai fungsinya.
Ø Pengawasan yang lebih ketat oleh pemerintah dan pengambilan tindakan tegas, seperti mengirimkan pengawas-pengawas pemerintah ke daerah-daerah tertentu dan membuat undang-undang mengenai boraks dan formalin.
Ø Masyarakat harus lebih jeli dalam memilih makanan dan tidak membelinya bila sepertinya mengandung bahan formalin maupun boraks.
Ø Kesadaran dari masyarakat untuk membantu pemberantasan dan pencegahan penggunaan boraks dan formalin pada bahan makanan. Seperti melaporkan kepada yang berwajib jika melihat ada orang lain yang sengaja menggunakan boraks dan formalin pada makanan yang dijualnya, dan juga tidak secara sembarangan menjual boraks dan formalin, tanpa mengetahui latar belakang pembeliannya.
BAB VI
DAFTAR PUSTAKA
http://www.beritaindonesia.co.id
Biologi
A. Latar Belakang
Sapi (Bison benasus L) merupakan ternak ruminansia besar yang mempunyai banyak manfaat baik untuk manusia ataupun tumbuhan, seperti daging, susu, kulit, tenaga dan kotoran. Selain itu urinenya juga bisa dimanfaatkan. Urine sapi (Bison benasus L) bisa di buat pupuk cair sebagai pestisida untuk tanaman. Penulis telah membuat pupuk cair dan hasilnya cukup baik
Pembuatan pupuk cair dari urine sapi (Bison benasus L) ini sangatlah mudah dan tidak membutuhkan waktu lama serta baik untuk tanaman dibandingkan dengan pupuk buatan pabrik. Bahan yang digunakan untuk membuat pupuk cair ini juga mudah di dapat dan biayanya relatif murah. Dengan adanya pembuatan pupuk cair ini masyarakat diharapkan mau mencoba membuat dan memakinya.
Produk yang dibuat ini mempunyai keunggulan tersendiri yaitu harganya murah, pembuatannya mudah, bahan mudah didapat, dan tidak membutuhkan waktu yang lama. Pupuk cair ini mengandung protein yang menyuburkan tanaman dan tanah seperti padi, palawija, sayur-sayuran, buah-buahan, bunga dan lain-lain. Produk ini berfungsi sebagai pengusir hama tikus, wereng, walang sangit, dan penggerek serta sebagai sumber pupuk organik.
Pembuatan pupuk cair dari urine sapi (Bison benasus L) ini membutuhkan bahan tambahan lainnya agar urine berkomposisis kimia yag baik. Bahan tambahan ini seperti lengkuas, kunyit, temu ireng, jahe, kencur, brotowali, dan tetes tebu. Untuk lengkuas, kunyit, temu ireng, jahe, kencur, brotowali maksud penambahan bahan-bahan ini untuk menghilangkan bau urine ternak dan memberikan rasa yang tidak disukai hama. Untuk tetes tebunya untuk fermentasi urine sapi (Bison benasus L) dan menyuburkan mikroba yang ada di dalam tanah, karena tetes ini mengandung bakteri Sacharomyces cereviceae. Berdasarkan uraian tersebut penulis mengambil penelitian yang berjudul “FERMENTASI URINE SAPI (Bison benasus L) SEBAGAI PUPUK CAIR UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI PERTANIAN”.
B. Pembatasan masalah
Urine sapi yang digunakan sapi (Bison benasus L) jantan jawa dirumah Bapak Ridhiyanto desa Ngemplak, Kecamatan Ngadirojo Lengkuas, kunyit, temu ireng, jahe, kencur, butrowali dibeli dipasar Ngadirojo
Tetes tebu dan starter atau bibit bakteri Sacharomycec sereviceae dibeli di Bapak Panut sentra produksi Alkohol Bekonang.
C. Permasalahan
Apakah urine sapi (Bison benasus L) bisa dijadikan pupuk cair untuk meningkatkan produksi pertanian?
D. Tujuan Penelitian
Untuk memanfaatkan urine sapi (Bison benasus L) untuk dibuat pupuk cair untuk meningkatkan produksi pertanian
E. Manfaat Penelitian
Memanfaatkan limbah petarnakan khususnya urine sapi untuk pupuk cair
Meningkatkan intensifikasi pertanian
Meningkatkan masyarakat untuk berwirausaha sendiri
Untuk perkembangan teknologi pertanian
BAB II
LANDASAN TEORI
Siapa bilang air kencing sapi merusak lingkungan. Buktinya, sapi di Sumatra Barat (Sumbar), tepatnya di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Air kencing dari satu ekor sapi mamp menyuburkan sekitar empat hektare sawah yang setiap hektarenya bisa menghasilkan enam hingga delapan ton padi atau gabah.Air kencing, ya tetap air kecing, yang keluar dari alat vital sapi,. Kandungan kimia urine sapi adalah N : 1,4 sampai 2,2 %, P: 0,6 sampai 0,7%, dan K 1,6 sampai 2,1. Namun sebelum keluar dari tubuh sapi itu, makanan sapi harus direkayasa dulu. Awalnya, hasil penemuan yang disebut sistem pupuk organik urine sapi (kosarin), semata-mata memang bukan untuk menyuburkan tanaman atau tumbuhan. Melainkan untuk menyuburkan sapi. Cara menggemukkan sapi ini dengan memberikan makanan jeram dicampur garam dan enzym Bossdext (Setiono Hadi, 2004).
Peningkatan produksi jahe di Indonesia sangat diperlukan, yang dapat dilakukan melalui perbaikan tehnik budidaya terutama pada fase awal pertumbuhan tanaman. Penggunaan pupuk kandang dan urin sapi sebagai zat pengatur tumbuh diharapkan mampu memperbaiki pertumbuhan tanaman jahe sehingga produksinya meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa jenis pupuk kandang, pengaruh konsentrasi urin sapi dan interaksi antara penggunaan beberapa macam pupuk kandang dan konsentrasi urin sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jahe muda ( Hary Witriyono, 1993).
Budidaya tanaman kencur di pedesaan umumnya masih bersifat sampingan. Maka tidak heran bila kuantitas dan kualitasnya beraneka ragam. Buku ini menyajikan cara penanaman kencur agar dapat memperoleh hasil yang maksimal ( Rahmat Rukmana, 1994).
Brotowali adalah tanaman asli Asia Tenggara. Di balik rasanya yang pahit,ternyatabrotowali mampu menyembuhkan berbagai jenis penyakit, ringan dan berat, seperti diabetes mellitus, hepatitis, rematik, dan gatal-gatal. Harapannya, dengan buku ini pembaca bisa mengaplikasikan atau meramu sendiri resep-resep obat dari brotowali. Sebagai pelangkap, buku ini disertai juga dengan pengalaman para penggunanya ( Budy Kresnady, 2003).
Kunyit sudah lama dikenal sebagai tanaman untuk bumbu dapur. Selain itu, kunyit juga sudah turun temurun digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Akhir-akhir ini, kunyit juga sudah diolah secara modern dalam skla industri sebagai bahan baku obat, kosmetik, dan pewarna tekstil. Ramuan obat berbahan kunyit dijelaskan dalam buku ini dengan tujuan agar pembaca dapat mengolah sendiri resep-resep tersebut ( Winarto, 2004).
Masyarakat semakin menyukai cara pengobatan atau pencegahan gangguan kesehatan dengan bahan-bahan alami. Jahe, Kunyit, Kencur, dan Temulawak merupakan bahan alami yang berkhasiat bagi kesehatan. Salah satu bentuk penyajiannya adalah dengan dibuat menjadi minuman yang cepat saji dan praktis, dengan kata lain dikemas dalam bentuk bubuk instan. Buku ini memberikan informasi lengkap, mulai dari pengenalan komoditasnya, peralatan, proses pembuatan, pengemasan, pemasaran, hingga analisis usaha instan jahe, kunyit, kencur, dan temulawak ( Prastyo, 2003).
Temu-temuan dan empon-empon banyak dimanfaatkan untuk bumbu masak, bahan minuman, bahan kosmetika, dan bahan obat/jamu tradisional. Komoditas temu-temuan dan empon-empon saat ini tidak hanya dikenal di dalam negeri melainkan juga di luar negeri. Dengan demikian, komoditas ini memiliki prospek pasar yang sangat luas sehingga patut diperhitungkan oleh para petani ataupun pemerintah karena dapat mendatangkan pendapatan tambahan bagi petani dan devisa bagi negara. Buku ini menyajikan aneka temu-temuan dan empon-empon, baik yang sudah dikenal oleh masyarakat maupun yang belum, mulai dari pengenalan masing-masing komoditas, budidaya, manfaat, dan khasiatnya (Fauzilah Muhlisin, 1999).
Infeksi cacing tidak selalu menimpa anak-anak. Siapa pun bisa terinfeksi bila pola hidupnya kurang higienis. Untuk mengusir cacing dari saluran pencernaan kita itu bisa digunakan bahan-bahan alami di sekitar kita. Di antaranya temu ireng (hitam) atau temu giring ( Aliadi, 1996).
Tetes atau ampas tebu adalah cairan kental sisa kristalisasi dari pabrik gula. Badek adalah bibit fermentasi ciu yang diambil dari sisa penyulingan ciu sebelumnya. Setelah diaduk, pada permukaan campuran bahan dasar ciu akan keluar buih. Campuran bahan dibiarkan sampai tujuh hari sampai buih menghilang, baru siap dimasak, Bagi pembuat ciu, kalau badek habis atau tak sanggup menghasilkan buih pada campuran bahan ciu, berarti produksi mandek. Hasil sulingan tetes tebu biasanya mengandung alkohol 30-45 persen. Produsen ciu di Bekonang umumnya juga memproduksi alkohol 90 persen. “Alkohol itu campuran tetes tebu yang disuling dua kali. Setelah jadi ciu, dimasak lagi, ditambah zat kimia kostik. Jadinya alkohol 90 persen,.Dari 200 liter campuran bahan akan menghasilkan 30 liter ciu setelah melewati tiga jam penyulingan. Kalau tetesnya bagus uapnya keluar cepat. Kalau jelek bisa empat jam baru selesai, Ciu paling jelek kandungan alkoholnya berkisar 25 persen. Hasil sulingan ciu berwarna agak keruh ( Taman Kembang Pete, 2006)
Wibowo (1989) menyatakan bahwa fermentasi sering didefinisikan sebagai proses pemecahan karbohidrat dari asam amino secara anaerobik yaitu tanpa memerlukan oksigen. Karbohidrat terlebih dahulu akan dipecah menjadi unit – unit glukosa dengan bantuan enzim a amilase dan enzim glukosidose, dengan adanya kedua enzim tersebut maka pati akan segera terdegradasi menjadi glukosa, kemudian glukosa tersebut oleh khamir akan diubah menjadi alkhohol.
Buckel (1987) menyatakan bahwa fermentasi adalah perubahan kimia dalam bahan pangan yang disebabkan oleh enzim. Enzim yang berperan dapat dihasilkan oleh mikroorganisme dan interaksi yang terjadi diantara produk dari kegiatan – kegiatan tersebut dan zat – zat yang merupakan pembentuk bahan pangan tersebut.
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu
1. Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi SMA Pancasila 1 Wonogiri
2. Waktu
Penelitian ini dilaksanakan 2 minggu selama bulan Desember
B. Alat dan Bahan
C. Pelaksanaan Penelitian
Urine sapi (Bison benasus L) di tampung dan dimasukkna ke dalam drum plastik
Lengkuas, kunyit, temu ireng, jahe, kencur, brotowali, ditumbuk sampai halus kemudian dimasukkan ke dalam drum plastik, maksud penambahan bahan-bahan ini untuk menghilangkan bau urine ternak dan memberikan rasa yang tidak disukai hama.
Setelah itu tetes tebu dimasukkan kedalam drum plastik, lalu dimasukkan starter Sacharomyces cereviceae. Tetes tebu dan starter Sacharomyces cereviceae ini berguna untuk fermentasi dan nantinya setelah jadi pupuk cair bisa menambah jumlah mikroba menguntungkan yang ada didalam tanaah.
Fermentasi urine didiamkan selama 14 hari dan diaduk setiap setiap hari.
Drum plastik ditutup dengan kain serbet atau kertas.
Setelah 14 hari pupuk cair sudah jadi kemudian disaring dan dikemas.
D. Hasil yang dicapai
Setelah pembuatan pupuk cair selesai hasilnya bagus. Urine sapi (Bison benasus L) sebelum difermentasi warnanya coklat kekuning-kuningan, baunya masih berbau urine, tetapi setelah difermentasi warnanya berubah menjadi coklat kehitam-hitaman, dan sudah tidak berbau urine. Penulis sudah mencobakan pada tanaman sayur dan bunga ternyata bagus. Tanaman sayuran dan bunga yang telah diberi pupuk cair ini menjadi lebih subur, daunnuya kelihatan segar dan hijau serta ulat yang menghinggapinya hilang. Pupuk cair ini juga dapat meningkatkan keuntungan pertanian serta memberikan keuntungan bagi kita.
E. Perhitungan Biaya Wirausaha
F. Sasaran Pemasaran
Dalam pembuatan pupuk cair yang bahan dasarnya urine sapi (Bison benasus L) ini yang menjadi sasaran adalah masyarakat khususnya petani dan pengusaha peternakan, karena pupuk cair ini bermanfaat untuk meningkatkan produksi pertanian.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Di dalam menyusun lapora ini penulis memperoleh kesimpulan:
Limbah cair peternakan khususnya urine sapi (Bison benasus L) dapat digunakan sebagai pupuk cair dengan menambahkan bahan tambahan didalamnya seperti lengkuas, kunyit, temuireng, jahe, kencur, brotowali, tetes tebu dan starter Sacharomyces cereviceae.
Dengan pupuk cair dari urine sapi (Bison benasus L) ini mesyarakat dapat memanfaatkan limbah urine sapi (Bison benasus L) dari peternakan sapi (Bison benasus L).
Dengan pupuk cair dari urine sapi (Bison benasus L) ini masyarakat dapat meningkatkan penghasilan dan dapat berwirausaha
B. Saran
Harus ditingkatkan pengetahuan bioteknologi kita biar dapat menghasilkan produk baru yang bermanfaat bagi manusia.
Harus ada pembinaan Karya Ilmiah Remaja di SMA Pancasila 1 Wonogiri secara berkelanjutan, untuk meningkatkan Ilmu pengetahuan.
Fasilitas LAB IPA khususnya Biologi perlu dilengkapi, sehinggha dalam praktek bisa berjalan dengan lancar.
KESEHATAN REPRODUKSI
1. Pentingnya kesehatan reproduksi remaja
Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa dimana dalam perkembangannya terjadi perubahan-perubahan baik fisik,psikologis maupun sosial. Dalam menyikapi perubahan yang terjadi dimana kondisi remaja belum stabil menjadikan dirinya rawan terhadap hal-hal yang negatif.
Remaja perlu memperhatikan kesehatan reproduksinya dengan baik sehingga tidak terjerumus dalam pergaulan bebas.
2. Perawatan organ reproduksi remaja
Perkembangan organ reproduksi dipengaruhi oleh :
1) Laki-laki oleh hormon testosterone.
2) Perempuan hormone estrogen.
2.1. Perawatan organ reproduksi remaja laki-laki
Kebersihan organ reproduksi laki-laki perlu diperhatikan diantaranya dengan melakukan :
a. Sunat.
Melakukan sunat merupakan salah satu upaya perawatan yang baik bagi laki-laki. Disamping membersihkan lebih mudah, kotoran juga tidak mudah berkumpul pada ujung kelamin.
b. Bagi yang tidak sunat.
Cara membersihkannya ketika membasuh kulit alat kelamin ditari-tarik sehingga kotoran yang menempel keluar. Disamping menjaga kebersihan, untuk mengetahui ada tidaknya penyakit pada organ reproduksi laki-laki dapat dilakukan pemeriksaan sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan mandi air hangat agar scrotum (kantung testis)lebih rileks kemudian meraba sendiri testis. Dengan cara ini dapat diketahui sedini mungkin ada tidaknya penyakit-penyakit seperti di bawah ini :
1) Kanker testis.
Adanya butiran keras sebesar biji kenari pada testis. Biasanya tidak sakit tetapi pada stadium lanjut terasa sakit diperut.
2) Orchitis adalah nyeri dibagian testis disertai pembengkakan.
3) Undescensus adalah tidak turunnya testis bisa satu atau kedua-duanya pada scrotum.
2.2. Perawatan organ reproduksi remaja wanita
Tanda-tanda kedewasaan pada remaja wanita diantaranya ditandai dengan pertumbuhan payudara yang semakin besar, tumbuhnya rambut disekitar kemaluan, ketiak, melebarnya pinggul dan terjadinya haid.Hal ini tidak bisa dihindari dan harus disikapi dengan baik, yaitu dengan merawatnya. Perawatan yang baik pada masa haid dengan sering mengganti pembalut untuk menghindari iritasi,mengganti pembalut setiap hari sesuai kebutuhan, membersihkan kemaluan dengan benar dari arah depan kebelakang dan tidak terlalu dalam. Mengganti celana setiap hari sesuai dengan kebutuhan, gunakan celana dalam yang menyerap keringat dan tidak ketat, menggunting rambut kemaluan. Pertumbuhan payudara yang membesar perlu perawatan yang benar seperti membersihkan payudara dan setiap satu bulan sekali melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Sadari dilakukan untuk mengetahui lebih dini ada tidaknya benjolan pada payudara. Penyakit yang berkaitan dengan payudara antara lain :
1) Tumor payudara ditandai dengan adanya benjolan.
2) Kanker payudara yaitu pembengkokan kelenjar payudara.
3) Inflamatory masitis yaitu pembengkakan payudara.
Jika terjadi keluhan-keluhan tersebut segera periksakan diri kebidan atau dokter.
3. Pengenalan organ reproduksi
3a. Organ reproduksi perempuan.
1. Ovarium.
2. Fimbrae.
3. Tuba falopi.
4. Uterus.
5. Cervix.
6. Vagina.
7. Mulut vagina.
3b. Organ reproduksi laki-laki.
1. Penis.
2. Glans.
3. Uterus.
4. Vas deferens.
5. Epidydimis.
6. Testis.
7. Scotum.
8. Kelenjar prostat.
9. Vesikulaseminalis.
10. Kandung kencing.
4. Penyakit menular seksual
Infeksi menular seksual merupakan infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual. Akan lebih beresiko apabila melakukan dengan berganti ganti pasangan baik melalui vagina, oral dan anal. Akibatnya dapat terjadi kemandulan baik pada perempuan dan laki-laki. Jenis-jenis Infeksi menular seksual :
1. Gonorrhoe.
Menyerang organ panggul, anus, dan saluran kencing sampai keluar nanah sehingga buang air kecil terasa sakit.
1) Penyebabnya kuman neissaria gonorrhoeae.
2) Tanda-tanda infeksinya nyeri, merah, bengkak dan bernanah.
3) Gejala rasa sakit pada saat kencing, keluar nanah kental, ujung penis tampak merah dan agak bengkak. Pada wanita bisa rasa sakit pada saat kencing dan keputihan.
2.Syphilis (Raja singa).
Luka seperti bisul panjang didaerah kemaluan, kemudian 3-8 minggu menyebar ke seluruh tubuh disertai gatal. Syphilis (Raja singa) :
1) Disebabkan kuman treponema pallidum.
2) Gejala berlangsung 3-4 minggu sampai 13 minggu.
3) Tanda-tanda :
a. Timbul benjolan sekitar alat kelamin.
b. Pusing-pusing dan nyeri tulang.
c. Bercak kemerahan pada tubuh.
d. Pada wanita hamil dapat ditularkan kepada bayi yang dikandungnya dan dapat menimbulkan kecacatan.
3.HIV/ AIDS.
Merupakan gejala yang timbul akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia yang disebabkan oleh virus HIV. Faktor yang merendahkan sistem kekebalan tubuh missal kurang gizi, stress,penyalah gunaan obat-obatan. Penularan AIDS biasanya melalui hubungan seksual, darah, menggunakan alat suntik/ alat tusuk seperti tindik, tato, akupuntur dan pisau cukur. Gejala awal penderita HIV/ AIDS adalah demam, pembesaran kelenjar dileher, lipat paha, ketiak, berkeringat waktu malam,penurunan berat badan drastic, batuk kering, diare, bercak-bercak dikulit, pendarahan sesak napas dan sakit tenggorokan.
4.Herper genitalis.
1) Disebabkan oleh virus herpersimplex.
2) Masa inkubasi 4-7 hari melalui hubugan sexs.
Tanda-tanda :
1) Bintik-bintik berair, pecah dan menjadi luka kering.
2) Dapat kambuh lagi apabila ada faktor pencetus seperti stress, haid dan dapat menetap seumur hidup.
3) Pada perempuan sering terjadi kanker mulut rahim.
5.Klamidia.
1) Disebabkan oleh Chlamydia trachomatis.
2) Masa tanpa gejala berlangsung 7-21 hari.
3) Timbul gejala peradangan pada alat reproduksi laki-laki dan perempuan
Kebersihan
A. Kebersihan
Menjaga kebersihan menjadi tanggungjawab bersama
Kebersihan merupakan salah satu hal yang sangat penting. Kesehatan sangat bergantung pada kebersihan. Seorang yang selalu menjaga kebersihan, maka dia akan menjaga dari berbagai penyakit. Begitu juga sebaliknya, orang yang dalam hidupnya tidak menjaga kebersihan maka orang tersebut akan mudah terkena penyakit.
Demikian banyaknya manfaat sebuah kebersihan dalam berbagai aspek kehidupan ini. Di antara sekian banyak manfaat kebersihan ternyata Islampun sangat memperhatikan tersebut.
Terlihat jelas pada ajaran-ajaran tersebut, Islam memerintahkan umatnya untuk selalu bersih dan suci. Makna bersih sangat luas penerapannya.
B. Makna Dari Kebersihan
Bersih secara behasa berarti bebas dari kotoran, suci, bening. Secara luas, makna kebersihan dapat berarti keadaan yang menurut kepercayaan, keyakinan, akal, atau pengetahuan manusia dianggap tidak mengandung noda atau kotoran.
Kebersihan merupakan kunci kualitas kesehatan seseorang. Apabila seseorang menjaga kebersihan dengan baik, maka dia akan terjaga dari penyakit. Akan tetapi, jika ia tidak menjaga kebersihan dengan baik, maka akan cepat terkena penyakit. Keadan kotor merupakan tempat hidup kuman-kuman yang menyebabkan berbagai penyakit.
C. Perilaku Hidup Bersih
Perilaku hidup bersih sangat baik untuk diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Kebersihan membuat kualitas kesehatan menjadi lebih baik. Perilaku hidup bersih dapat dilakukan dimana saja. Baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan sekolah.
Selain diri kita sendiri yang harus bersih, lingkungan sekitar juga harus bersih. Dampak kurang bersihnya lingkungan bukan hanya menimbulkan penyakit, tetapi datangnya bencana alam yang ditimbulkan karena kurang menjaga kebersihan. Banjir merupakan salah satu bencana alam yang disebabkan kurang bersihnya lingkungan. Oleh karena itu menjaga kebersihan lingkungan merupakan suatu hal yang harus dilakukan, apabila ingin hidup sehat dan jauh dari bencana alam.
Ada juga 6 unsur yang perlu kita ketahui mengenai kebersihan, yaitu :
1) Kebersihan tubuh
2) Kebersihan iklim, cuaca dan udara dari polusi
3) Kebersihan tempat dan lingkungan dari sesuatu yang membahayakan.
4) Kebersihan air, sungai dan bak mandi.
5) Kebersihan anggota badan, dan
6) Kebersihan batin dari akhlak tercela.
D. Kebersihan di Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga adanya di rumah, maka rumah merupakan tempat yang harus diutamakan dalam penerapan perilaku hidup bersih. Rumah merupakan tempat tinggal keluarga yang harus dijaga kebersihannya. Apabila rumah bersih, maka penghuni rumah tersebut akan terjaga kesehatannya. Sebaliknya apabila rumah tersebut tidak bersih, maka yang bertempat tinggal di dalam rumah tersebut tidak terjaga kesehatannya. Bahkan sangat rawan terkena penyakit. Penyakit yang diakibatkan kurangnya menjaga kebersihan.
Dengan melaksanakan kegiata tersebut, maka rumah yang kalian jadikan tempat tinggal akan terjaga kebersihannya. Itu berarti rumah kalian terjaga dari penyakit dan kuman-kuman.
E. Kebersihan di Lingkungan Sekolah
Sebagai pelajar, sekolah merupakan lingkungan kedua setelah rumah yang sering kita tempati. Jadi, lingkungan sekolah berbeda dengan lingkungan rumah, karena yang berada di lingkungan sekolah bukan keluarga. Tetapi seluruh siswa dari semua tingkatan.
Berikut hal-hal yang harus dilakukan untuk menjaga kebersihan sekolah :
1) Melaksanakan tugas piket.
2) Membuang sampah pada tempatnya.
3) Tidak mengotori fasilitas sekolah.
4) Memakan makanan atau jajanan yang bersihdan sehat.
5) Mengadakan JUMSIH (Jum’at Bersih) yang dilaksanakan oleh seluruh masyarakat sekolah.
JUMSIH di sekolah
Dengan melakuan kegiatan-kegiatan tersebut, maka kalian telah melakukan perilaku hidup bersih. Berperilaku hidup bersih di lingkungan sekolah berarti kita telah menjaga kualitas kesehatan dan kenyamanan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sekolah.
F. Cara Menjaga Kebersihan
Kita perlu menjaga kebersihan lingkungan sekitar kita. Caranya dengan membuang sampah pada tempatnya, menyapu dan mengepel lantai rumah, menguras bak mandi minimal dua minggu sekali, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan dan masih banyak cara-cara lainnya yang dapat kita lakukan untuk menjaga kebersihan di lingkungan sekitar kita.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Jadi kesimpulannya adalah kebersihan merupakan suatu hal yang penting di lingkungan kita. Dan kesehatan sangat bergantung pada kebersihan. Jika lingkungan kita tidah bersih, maka kita akan mudah terserang berbagai penyakit.
B. Saran
Sebagai masyarakat Indonesia, kita wajib dan harus menjaga kebersihan agar kita terhindar dari berbagai penyakit dan kuman-kuman.
Jadi saran saya jika kita tidak ingin terserang dari berbagai penyakit, maka berpandai-pandailah dalam melaksanakan atau melakukan kebersihan di lingkungan sekitar kita dengan rutin.
DAFTAR PUSTAKA
Anggie, Ayuningtyas. 2014. Makna dari kebersihan.
Langganan:
Postingan (Atom)